‘Irigasi Kabut’ Tingkatkan Hasil Panen Lahan Marjinal
YOGYAKARTA – Kelompok Tani Pasir Makmur di Desa Srigading Sanden, Bantul, diharapkan dapat menjadi tempat belajar sekaligus percontohan penerapan teknologi inovasi di lahan pertanian marjinal kebanggaan Kabupaten Bantul.
“Pasalnya, Kelompok Tani ini telah mampu dan berhasil mengolah lahan pasir yang dikenal kurang subur menjadi lahan pertanian yang luar biasa menghasilkan, dengan penerapan sistem pertanian irigasi kabut”, kata Titiek Soeharto, saat meninjau sistem irigasi kabut di kelompok Tani Pasir Makmur, Desa Srigading Sanden, Bantul, Jumat (24/11/2017) sore.
Sistem irigasi kabut merupakan inovasi teknologi berupa pengendalian suhu dan kelembaban udara di lahan pasir, dengan metode penyiraman secara otomatis.
Baca: Titiek Soeharto: Pemanfaatan Lahan Marjinal Belum Maksimal
“Ini luar biasa. Penerapan sistem irigasi kabut ini bisa melipatgandakan hasil pertanian, khususnya cabai dan bawang merah. Harus dikembangkan dan menjadi kebanggaan Kabupaten Bantul. Pemerintah daerah harus bantu. Karena sudah banyak daerah lain yang belajar dan melakukan studi banding di sini,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI Partai Golkar Dapil DIY, ini.
Selain dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan para petani, katanya, penerapan teknologi inovasi pertanian di lahan marjinal berupa sistem irigasi kabut ini juga dinilai mampu membantu mewujudkan program pemerintah dalam mencapai swasembada pangan. Sehingga diharapkan, hasil komoditas pangan secara nasional dapat meningkat, yang pada akhirnya dapat menghentikan impor.
Ketua Kelompok Tani Pasir Makmur, Sumarno, mengaku banyak mendapat kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia yang ingin belajar mengenai sistem irigasi kabut. Hanya saja, kelompoknya belum memiliki sarana berupa gedung pertemuan untuk menjamu dan menularkan ilmu secara maksimal. Ia pun berharap, agar pihak terkait khususnya pemerintah daerah, dapat memfasilitasi hal tersebut.
“Kita berharap mendapat fasilitas dan pendampingan. Karena sudah banyak daerah lain yang datang untuk belajar di sini. Mulai dari Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Pangandaran, Temangung, bahkan terakhir ada perwakilan 33 provinsi datang ke sini. Tapi, sayangnya kita belum punya tempat layak, bahkan kamar mandi saja tidak ada,” katanya.