Hong Kong Beralih ke Pranata Virtual Untuk Menjalankan Tradisi
HONG KONG – Warga Hong Kong mulai menggunakan teknologi virtual untuk menjalankan ritual penghormatan kepada leluhur. Kurangnya ruang untuk pemakaman di Hong Kong yang padat menjadi pendorong munculnya pranata virtual tersebut.
Hong Kong mengenal tradisi tradisional penghormatan Tionghoa kuno kepada nenek moyang. Namun hal itu saat ini sulit dilakukan karena masyarakat kesulitan mendapatkan lahan pemakaman. Keberadaan lahan tersebut dibutuhkan untuk memasang nisan sebagai simnbol untuk melakukan penghormatan.
Seorang pengusaha bernama Anthony Yau menciptakan sebuah perangkat lunak virtual reality untuk mendapatkan solusi dari permasalahan tersebut. Dengan aplikasi virtual memungkinkan orang menjalani tradisi penghormatan di wilayah yang mengharuskan anggota keluarga mengeluarkan sekitar Rp1,75 miliar untuk menyimpan abu orang yang dicintai.
Perusahaan milik Anthony Yau, iVeneration.com, menawarkan pengguna sebuah pemakaman untuk membuat batu nisan virtual di manapun di bidang lahan Augmented reality Hong Kong. Termasuk tempat yang tidak mungkin seperti taman pusat kota.
Terlepas dari penghematan biaya, Yau mengharapkan model bisnisnya untuk menarik lebih banyak penduduk muda yang sadar lingkungan. “Orang-orang yang meninggal mengambil lebih banyak tempat daripada mereka yang masih hidup, seperti yang dikuburkan menggunakan sebidang tanah itu selama bertahun-tahun,” kata Yau, Selasa (21/11/2017).
Yau berharap bisa meluncurkan website tersebut ke publik pada kuartal pertama 2018. Saat ini sudah ada sekira 300 pengguna aplikasi virtual tersebut. Kepatuhan atau penghormatan terhadap orang tua dan sesepuh lainnya merupakan kebajikan terpenting dalam tradisi Konghucu.
“Kita perlu mendidik generasi penerus mengenai kesalehan persaudaraan, tidak peduli bagaimana Anda menunjukkannya, asalkan itu berasal dari hati. Kami pikir generasi berikutnya mungkin menggunakan layanan ini untuk orang tua mereka,” pungkas Yau.
Alex Lee, seorang karyawan perusahaan teknologi berusia 46 tahun, menggunakan iVeneration untuk memberikan penghormatan kepada kakeknya yang telah meninggal. “Semua orang sadar kekurangan lahan adalah masalah di Hong Kong dan pemerintah telah mendorong penguburan yang ramah lingkungan,” kata Lee. (Ant)