Dua Gorong-gorong di Lintas Ketapang Dibongkar

LAMPUNG — Dinas Bina Marga Provinsi Lampung, mulai melakukan pembongkaran gorong-gorong di Desa Karangsari dan Sripendowo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, di ruas jalan provinsi penghubung kecamatan Penengahan – Ketapang, yang juga menjadi jalur perlintasan dari Kabupaten Lampung Selatan menuju Lampung Timur.

Proses perbaikan tersebut membuat aktivitas kendaraan diberlakukan sistem buka tutup selama pengerjaan dilakukan.

Hasan, salah satu pekerja sekaligus pengawas proyek pengerjaan gorong-gorong, mengungkapkan, perehaban atau penggantian gorong-gorong merupakan bagian dari revitalisasi infrastruktur jalan ruas provinsi Lampung yang sebagian diperbaiki dengan sistem rigid beton secara bertahap sepanjang lebih dari 200 meter di Desa Sripendowo, dan 350 meter di Desa Karangsari.

Perbaikan dilakukan bertahap sejak Agustus lalu, termasuk perbaikan sistem drainase di sisi badan jalan akibat genangan air yang kerap terjadi sebelum ada drainase.

Hasan, pengawas pengerjaan gorong-gorong di ruas jalan provinsi lintas Ketapang-Penengahan, Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]
“Awalnya, jalan terbuat dari aspal, namun selama bertahun tahun kerap rusak karena saluran air tidak lancar berimbas air menggenang di tengah jalan selanjutnya mengakibatkan kerusakan dampak dari kendaraan bertonase berat melintas dan kini diganti jalan beton”, terang Hasan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (11/11/2017).

Gorong gorong yang akan diperbaiki, kata Hasan, terbilang sudah tidak memadai karena hanya menggunakan besi kecil pada saat pertama kali dibangun puluhan tahun silam, dan kini akan dibangun menggunakan box culvert, yang merupakan beton bertulang pracetak yang dibuat oleh pabrik dengan ukuran sekitar 120 centimeter untuk kedalaman dan lebar sekitar 112 centimeter. Penggunaan box culvert kecil, karena lokasi tersebut bukan terletak di aliran sungai dan hanya berfungsi sebagai saluran pembuangan air saat hujan.

Menurut Hasan, sebelum proses penggantian gorong-gorong, air yang menggenang tersebut kerap mengakibatkan lubang di area gorong-gorong yang berimbas beberapa kendaraan kerap mengalami kecelakaan di lokasi tersebut pada malam hari akibat buruknya sistem penerangan di jalan tersebut.

Truk-truk pengangkut hasil bumi bahkan sebagian pernah mengalami patah as akibat banyaknya lubang di jalur tersebut yang sebagian besar belum diperbaiki terutama di wilayah Dusun Siring Dalem.

Sobri, salah satu warga Ketapang yang berkantor di Kalianda, mengaku upaya perbaikan jalan dan gorong-gorong cukup mendesak, karena selain faktor keselamatan kondisi jalan juga berimbas pada pengeluaran uang akibat kerapnya kendaraan rusak dan harus mengganti onderdil yang disebabkan jalan rusak.

“Suspensi kendaraan dan rem menjadi berat kinerjanya di jalan yang berlubang dan rusak, bahkan mencapai ratusan titik pada jalan aspal sepanjang satu kilometer di jalan ini, sementara perbaikan dilakukan sebagian”, ungkap Sobri.

Dua titik gorong-gorong yang diperbaiki tersebut diharapkan Sobri akan diikuti dengan perbaikan jalan menyeluruh. Sebab, pada titik Desa Sripendowo meski sudah dibangun jalan rigid beton, namun ketinggian antara perumahan warga mencapai 50 sentimeter sehingga warga harus membuat tangga.

Material pasir yang direncanakan akan dipergunakan untuk membuat talud pada bahu jalan bahkan masih dibiarkan terserak di tepi jalan, mengganggu pengguna jalan tanpa ada kejelasan kapan akan dibangun talud drainase.

Lihat juga...