Dinkes Bali Imbau Masyarakat Waspada Abu Vulkanik

DENPASAR – Aktivitas Gunung Agung terus meningkat. Erupsi yang terjadi memuntahkan abu vulkanik di sekitar gunung yang terletak di Karangasem.

Tidak hanya itu, abu vulkanik tersebut juga menyebar mengikuti arah angin ke timur dan tenggara di wilayah Nusa Tenggara Barat, terutama Pulau Lombok.

Selain itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Agung yang semula menduduki Level III (siaga) kini menjadi Level IV (awas) pukul 06.00 WITA, Senin (27/11) kemarin, sehingga warga diimbau untuk waspada dan menggunakan masker ketika keluar rumah karena sangat berpotensi akan mengganggu kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya/Foto: Sultan Anshori.

“Masyarakat harus mewaspadai debu vulkanik itu, karena sangat berbahaya bagi kesehatan,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Bali Ketut Suarjaya saat ditemui di kantornya, Selasa (28/11).

Suarjaya menambahkan, secara medis beberapa dampak akan dirasakan oleh warga yang terpapar langsung oleh debu Vulkanik. Yang pertama jika debu vulkanik itu dihirup oleh warga akan membahayakan paru-paru karena kandungan dari abu vulkanik bukan hanya partikel debu saja, tapi juga ada komponen lain berupa mineral, silika, batu hasil letusan, dan gas seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), serta dioksida (serta hidrogen dioksida (H2S). Kedua dampaknya terhadap kulit manusia. Serta yang ketiga adalah infeksi terhadap mata.

“Oleh sebab itu saya mengimbau kepada masyarakat yang tinggal atau terlewati semburan abu vulkanik agar menggunakan masker atau kain yang sudah dibasahi. Debu tersebut partikelnya sangat kecil sehingga gampang terhirup oleh hidung. Selain itu juga menggunakan baju lengan panjang serta kacamata agar mata kita terlindungi,” imbau Suarjaya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia mengaku sudah menugaskan kepada tim medis yang bertugas di posko pengungsian untuk melakukan sosialisasi terhadap bahaya abu gunung itu. Selain itu Suarjaya mengaku sudah menyiapkan ratusan ribu masker untuk dibagikan kepada masyarakat maupun pengungsi.

“Kami sudah siapkan masker itu untuk dibagikan. Selain itu kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk menutup sumber mata air agar tidak tercemar oleh abu,” jelas Suarjaya.

Berdasarkan laporan dari Kadiskes Karangasem ada beberapa warga yang sudah terdampak langsung abu Vulkanik dengan mengenai mata, namun sudah bisa ditangani oleh tim medis di sana.

Untuk Tim Medis dirinya mengaku sudah menyiapkan sekitar 400 tenaga medis yang terdiri dari dokter, perawat, dan ahli obat. Selain itu dibantu oleh tim medis dari beberapa kabupaten yang menjadi lokasi pengungsi.

“Kami juga dibantu oleh organisasi kedokteran seperti IDI dan lainnya. Untuk obat-obatan kami tidak ada masalah. Karena kami sudah berkomunikasi dengan pusat. Obat yang paling banyak dibutuhkan oleh para pengunjung adalah obat batuk, meriang dan antibotik,” tutup Suarjaya.

Seperti yang diketahui, semenjak meningkat status vulkanologi, Gunung Agung sudah mengalami erupsi sebanyak tiga kali. Erupsi pertama terjadi pada Selasa sore, (21/11) lalu. Erupsi atau letusan Gunung Suci bagi umat Hindu Bali ini bersifat Freatik dengan disertai keluarnya abu setinggi 700 meter dari atas permukaan kawah Gunung Agung.

Untuk erupsi kedua terjadi pada Sabtu Sore (26/11) dengan menyemburkan abu vulkanik berwarna putih abu-abu pekat setinggi 1.500 meter dari atas permukaan kawah Gunung Agung.

Suasana Gunung Agung ketika erupsi diambil dari Desa Amed Kecamatan Abang, Karangasem/Foto: Sultan Anshori
Lihat juga...