Desa Mandiri Lestari Kedungkandang Terus Dikerjakan

MALANG — Tahap kedua pelaksanaan program Desa Mandiri Lestari yang digagas Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri)  terus dikerjakan, salah satunya di Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. 

Liaison Officer (LO) Damandiri, Faozan Alfikri, menjelaskan, sejauh ini Damandiri sudah melaksanakan program Desa Mandiri Lestari di delapan desa yang terbagi menjadi dua tahap, yakni tahap pertama lima desa dan tahap kedua tiga desa.

“Kelurahan Kedungkandang merupakan satu-satunya di Jawa Timur yang mendapatkan program Desa Mandiri Lestari, dan satu-satunya program Desa Mandiri Lestari yang dilakukan di kota,” jelasnya kepada Cendana News, usai menghadiri acara curah pendapat penyusunan program dan kegiatan Desa Mandiri Lestari Kedungkandang, di Aula Kantor Kelurahan Kedungkandang, Selasa (28/11/2017).

Menurut Faozan, sebenarnya di desa-desa tersebut sudah ada lembaga-lembaga pemberdaya, di antaranya Lembaga Pemberdaya Masyarakat Kelurahan (LPMK) dan gerakan PKK dengan 10 programnya. Tapi, kenyataannya masih banyak juga program-program yang masih jalan di tempat. Untuk itu, kemudian program Desa Mandiri Lestari dihadirkan, agar bisa menyejahterakan masyarakat melalui potensi yang ada di desa setempat.

Mulai dari potensi sumber dayanya, potensi alam yang ada, pertanian, perikanan, pariwisata, sampai dengan potensi kelembagaan dan potensi-potensi yang lainnya.

“Dari pengamatan tim Damandiri, ternyata banyak potensi Kedungkandang yang bisa digali dan dikembangkan, sehingga terpilih untuk mendapatakan program Desa Mandiri Lestari,” ungkapnya.

Selain itu, kata Faozan, juga karena Damandiri memang sudah lama bermitra dengan Universitas Merdeka (Unmer Malang) dalam program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), yang salah satu posdayanya berada di Kelurahan Kedungkandang.

Faozan menjelaskan, program Desa Mandiri Lestari sebagaimana target dari Millenium Development Goals (MDGs) atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni meliputi bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan pemanfaatan lingkungan.

Di bidang kesehatan, katanya, yang sangat menonjol saat ini dan pemerintah juga sangat fokus terhadap permasalahan tersebut yakni tumbuh kembang balita. Karena usia balita adalah usia emas, sehingga sudah harus diperhatikan tumbuh kembangnya sejak kehamilan.

“Jadi, kita amati bagaimana ibu hamil dan tumbuhkembangnya janin di dalam perut. Karena menurut aturan kesehatan, bahwa ibu hamil harus memeriksakan kandungannya minimal empat kali. Selanjutnya, kita ingin mengadvokasi masyarakat, bahwa kehamilan yang sehat harus melalui pemeriksaan yang rutin,” sebutnya.

Selain itu, di bidang kesehatan, lansia di atas umur 60 tahun ke atas juga harus mendapatkan perhatian. Lansia  perlu perhatian, agar tetap sehat dengan mengajaknya olah raga, seperti senam lansia, olah pikir, olah jiwa dengan memperbanyak beribadah. Sehingga, dibutuhkan  wadah yang disebut Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).

Di bidang pendidikan, balita harus ikut Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi balita yang usianya lebih dari 2 tahun, sehingga kemandirian anak bisa mulai terbangun. Kemudian untuk menghindarkan remaja dari pengaruh narkoba dan pergaulan bebas, ada Bina Keluarga Remaja. Dalam wadah ini, orang tua dikumpulkan dan diberi pengarahan untuk menghadapi permasalahan.

“Jadi, seluruh aspek strata umur semua kita perhatikan. Sehingga kita tinggal menggerakkan lembaga-lembaga tersebut,” jelasnya.

Sementara di bidang lingkungan, kata Faozan, ada pengenalan bank sampah kepada masyarakat, sehingga bisa hidup sehat dan hidup bersih. Sampah harus dipilah mana yang organik dan yang anorganik. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk organik dan yang anorganik seperti kardus, plastik, kaca bisa dijual melalui bank sampah.

Sehingga di Desa mandiri Lestari Kedungkandang  ini nantinya ada bayar PAUD menggunakan sampah melalui bank sampah. Dan, yang terakhir di bidang ekonomi, sangat banyak sekali potensi di Kedungkandang yang bisa dikembangkan. Di antaranya potensi wisata, yakni Taman Wisata Edukasi Rolak.

Di tempat tersebut, nantinya bisa ditambahkan warung-warung kuliner yang tertata rapi. “Tapi, Damandiri menekankan, bahwa peran orang miskin harus diberi peluang juga, dengan cara mereka diminta untuk membuat makanan-makanan yang terstandarisasi kesehatan dan kebersihannya, untuk bisa dijual di tempat tersebut,” tuturnya.

“Karang Taruna juga harus bisa berperan dengan membuat sablon kaos atau gantungan kunci. Jika mereka memerlukan pelatihan, Damandiri siap untuk memberikan pelatihan, sehingga hal ini bisa menjadi potensi ekonomi”, kata Faozan.

Lihat juga...