Warga Lamsel Keluhkan Menurunnya Debit Air
LAMPUNG — Keberadaan sumur dalam masih menjadi tumpuan bagi sebagian besar warga di Kecamatan Ketapang, Penengahan, serta sebagian besar warga Lampung Selatan, seperti bagi Zulham, warga Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, yang selama puluhan tahun memanfaatkan sumur gali atau sumur dalam tersebut.
Zulham mengatakan, kedalaman sumur miliknya mencapai 15 meter dan mampu menyediakan air bersih pada kedalaman 10 meter hingga musim penghujan mencapai 5 meter, sehingga mudah ditimba dengan sistem kerekan.

“Sudah dua kali sumur dalam saya ini dikuras dan diperdalam, karena dari tahun ke tahun debitnya makin menyusut, terutama saat kemarau, sehingga harus kembali menimba”, terang Zulham, Minggu (22/10/2017).
Sempat menggunakan alat timba, mesin pompa dan kembali menggunakan alat timba karena musim kemarau melanda sejak Juli hingga September, membuat dirinya kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga penggunaan air bersih harus dihemat. Kondisi tersebut diakuinya berbeda dengan belasan tahun silam. Meski kondisi kemarau, air masih mudah diperoleh di wilayah tersebut bahkan tak pernah kesulitan mengakses air bersih.
Salah satu faktor semakin berkurangnya air pada sumur dalam yang dimiliknya dan warga, menurut Zulham, akibat sebagian lahan persawahan di wilayah tersebut telah berubah fungsi menjadi perumahan warga dan proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Imbas dari peralihan fungsi lahan persawahan dan perkebunan menjadi perumahan tersebut di antaranya dengan berkurangnya pepohonan di wilayah tersebut yang berfungsi sebagai sumber resapan air.
Penebangan pepohonan juga dikatakan sangat berpengaruh, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan kondisi wilayah tersebut yang masih memiliki banyak pepohonan di areal perkebunan. Sebagian pohon yang berada di wilayah tersebut bahkan terbukti efektif menjadi penahan air yang berdampak sumur warga masih menghasilkan air bersih mencukupi.
“Harapan kita, penanaman pohon digalakkan lagi, agar warga tidak mengalami kesulitan air bersih. Jika pepohonan ditebang, takutnya sumber air bersih semakin sulit diperoleh”, beber Zulham.
Kualitas air tanah yang masih sangat bagus meski debitnya mulai berkurang juga diakui oleh Sumini, warga Desa Pasuruan di Kecamatan Penengahan, yang tak jauh dari lokasi Jalan Tol Trans Sumatera STA 18. Kondisi sumur dalam miliknya yang awalnya bisa dipompa dengan mesin, kini sudah harus ditimba dengan tambang karena sudah menyusut.
Kondisi musim hujan yang belum stabil, peralihan fungsi lahan perkebunan menjadi perumahan pascaproyek Tol Sumatera diakuinya ikut berimbas pada debit air sumur dalam miliknya.
“Penyebab utama memang kemarau yang melanda dan hingga kini belum tiba musim hujan yang stabil, sehingga debit air sumur juga belum stabil”, terang Sumini.
Sumini berharap, musim hujan stabil bisa mengembalikan debit air di sumur yang dimiliki warga, meski bagi sebagian warga pemilik modal sebagian memilih beralih menggunakan sumur bor dengan biaya pembuatan mencapai Rp15 juta, dengan kedalaman sekitar 30 meter.
Keberadaan sumur bor yang sudah semakin marak di wilayah tersebut sekaligus mengkuatirkan bagi Sumini dan warga lain, dengan menurunnya kedalaman air tanah. “Pernah kami lakukan penyuntikan sumur atau memperdalam sumur, namun saat kemarau airnya kembali menyusut dan saat hujan airnya keruh”, terang Sumini.
Bersama suaminya, ia bahkan masih mempertahankan pohon di kebun miliknya dengan melakukan sistem tebang pilih, menyisakan sebagian pohon yang berfungsi sebagai penyerap air dan bisa memasok air bagi sumur miliknya.