Uniknya Sajian Kuliner dengan Nuansa Kemping

JAKARTA – Makanan mie, identik dengan makanan pokok atau makanan wajib bagi para mahasiswa yang nge-kost jika keuangan mereka sedang menipis. Mie juga identik dengan mereka yang melakukan traveling, semisal naik gunung, kemping, atau perjalanan lainnya.

Menariknya, ada sebuah warung kuliner yang menyajikan menu mie dengan suasana yang membuat pengunjungnya seakan sedang melakukan kemping.

Amin Budiarto, -Foto: M Fahrizal

Amin Budiarto, pemilik TravelMie Jakarta di bilangan Pasar Minggu, menceritakan, berdirinya TravelMie ini berawal dari ide Pak Bara, salah satu owner yang sejak di bangku kuliah merupakan pecinta alam, setelah lulus kuliah, bekerja, aktivitas kegiatan naik gunung yang dilakukannya mulai berkurang, dan pada akhirnya dia mencoba membuka tempat makan dengan konsep kemping yang dikenal dengan istilah urban kemping, yakni kemping di tengah perkotaan, bermalam di tengah perkotaan, suasana kemping gunung ditarik atau dibawa di tengah kota. Dari itulah nama TravelMie, ada.

Nama TravelMie awalnya memang pada waktu itu sedang booming atau lagi naik daunnya mie instan yang disajikan di sebuah kafe. Bukan hanya di warung-warung kopi biasa. Saat itu, Pak Bara bukan hanya ingin meramaikan kuliner mie yang sedang berkembang pesat, tetapi karena dirinya yang memang pecinta alam yang nota bene ketika melakukan kegiatan kemping bekal perlengkapan salah satu di antaranya, mie.

Dijelaskan lagi, TravelMie berdiri pada 2015 dengan lokasi awal di Tangerang. Bermula dengan kaki lima menggunakan tempat pelataran showroom mobil dijadikan tempat untuk membuka usaha TravelMie. Setiap harinya melakukan buka tutup tenda kemping, karena lokasi yang digunakan di pinggir jalan sehingga dapat menarik perhatian orang-orang yang melintas, dan konsep tersebut ternyata disukai banyak orang.

Modal awal Rp15 juta hanya cukup memiliki 3 tenda, dengan gerobak untuk menyimpan keperluan perlengkapan dan peralatan. Keterbatasan modal itulah yang hanya bisa mendapatkan sewa tempat di depan showroom dan peralatan yang masih sedikit.

Melihat antusias pengunjung yang begitu penasaran dengan usaha tersebut, membuat salah satu rekan bisnis sangat optimis jika usaha bisnis akan berkembang dan memerlukan biaya yang sangat besar. Pada akhirnya mereka mampu mendapatkan suntikan dana kurang lebih sekitar Rp500 juta untuk membuka usaha ini menjadi lebih besar lagi dengan menyewa lahan tempat yang lebih dari yang sebelumnya.

Amin mengatakan, saat itu ada kisah menarik. Ketika mau pindah lokasi yang lebih besar lagi, ia memutuskan untuk tutup sebenarnya, karena saat itu  grafik peningkatan pengunjung ketika masih di depan showroom, pasang surut, karena banyak orang yang sepertinya tidak mengerti dengan konsep itu, apakah itu jual makan atau jual tenda.

Karena optimisme, mereka bisa pindah dengan tempat yang lebih luas akhirnya keunikan dari TravelMie ini yang menjadi daya tarik masyarakat untuk menyambangi bisnis usaha mereka di lokasi yang baru masih di wilayah Tangerang, dan semakin ramai dikunjungi.

“Setelah memiliki tempat yang lebih besar, banyak permintaan kerjasama yakni di Jakarta yang merupakan cabang kedua, selanjutnya buka di Surabaya, lalu Malang, dan Jogjakarta yang baru bulan lalu melakukan launching,” jelas Amin.

Dikatakan lagi, walaupun tempat ini terbilang unik, namun memiliki kelemahan yakni dengan mengubah set up tempat berbeda dengan yang lainnya, sehingga menjadikan tempat ini memiliki daya tarik bagi masyarakat. Maka, yang di Tangerang sekarang dalam proses renovasi seiring berkembangnya bisnis usaha ini. Keunikan yang kuat bila tidak diolah akan menjadi kelemahan.

Keunikan dari TravelMie ini, di antaranya view dan suasana yang terkesan gunung, bisa dilihat dari pelataran atau lantai. Jika di tempat lain mungkin disediakan tempat rokok (asbak), namun di sini tidak ada satupun tenda maupun meja yang diberikan asbak. Mereka habis merokok ya buang di lantai seperti di pegunungan. Tidak hanya itu, keunikan lainnya bila hujan, air dari luar jalan bisa masuk, dari atap rembes di dinding, dan anehnya pengunjung tidak komplain dengan kondisi seperti itu, justru mereka malah menikmati, bisa dikatakan mereka seperti merasakan nuansa semi outdoor, atau semi kemping.

“Di Tangerang, dindingnya sudah menggunakan wallpaper bernuansa pegunungan, dan di Jakarta Selatan ini tepatnya di Pasar Minggu sebentar lagi akan melakukan renovasi serupa dengan menampilkan dinding bernuansa pegunungan, sehingga pengunjung bisa benar-benar seperti merasakan kemping di pegunungan dan tentunya bisa ber-selfie. Penyegaran view,” jelasnya, lagi.

Sementara itu, terkait omzet, Amin mengatakan jika saat ini setiap bulannya mengalami kenaikan, dari Rp100 juta hingga sekarang mencapai Rp300 juta. Kenaikan omzet ini terlihat juga dari masyarakat yang baru mengetahui keberadaan TravelMie yang sebenarnya sudah 2 tahun berjalan.

Untuk karyawan sendiri berbeda-beda jumlahnya, di Jogja memiliki karyawan sebanyak 25 orang dengan 2 shift, sementara di Jakarta memiliki karyawan 15 orang dengan waktu buka mulai jam 16.00 WIB dan tutup pukul 23.30 WIB, dan bila weekend tutup pukul 24.00 WIB.

Untuk menunya sendiri, awalnya memang mengikuti trend yang terjadi, yakni mie instan yang dibawa atau disajikan dalam kafe. Namun, karena dinamika usaha kuliner, akhirnya managemen memutuskan untuk tidak terperangkap dalam sangkaan yang umum dengan melihat kata TravelMie mereka beranggapan mie-nya itu yang diambil.

Justru di TravelMie sendiri yang menjadi favorit atau yang banyak dipesan pengunjung itu tidak hanya mie, melainkan menu lain seperti nasi goreng, ayam kepruk, mie bakar, nasi bakar, kue cubit, pisang poky dengan topping cokelat, strawberry, dan keju. Varian menu makanan di TravelMie lebih mengikuti kondisi perkembangan, karena konsumen sekarang ini cenderung cepat berubah dengan banyaknya inovasi makanan di mana-mana.

Harga dimulai dari 6.000 rupiah hingga yang paling mahal itu namanya desert, yakni kelapa surga, yaitu kelapa muda yang disajikan dengan es krim serta banyak macam isinya dikenakan harga sekitar 30.000 rupiah. Sedangkan untuk mie sendiri kisaran harga dari 21.000 hingga 28.000 rupiah.

“Bisnis itu menangkap peluang, walaupun ciri khas kita tetap di mie, namun tidak fokus banget di mie. Untuk para pecinta alam sudah banyak yang mengetahui TravelMie ini dan sudah dijadikan tempat untuk kopdar mereka ataupun tempat untuk persinggahan setelah mereka melakukan kemping.

Sementara untuk pengunjung di luar pecinta alam, seperti keluarga, menjadikan TravelMie sebagai tempat rekreasi, karena terkesan tidak kaku dan membuat nyaman anak-anak.

Lihat juga...