Cenil, Rasanya Enak, Gurih, Manis dan Kenyal

YOGYAKARTA – Nusantara dikenal memiliki kekayaan kuliner tradisional yang begitu beragam. Salah satu yang cukup populer adalah kue Cethil atau biasa juga disebut kue Cenil. Makanan berbentuk mungil yang banyak ditemukan di wilayah DIY dan Jawa Tengah ini memiliki citarasa cukup unik. 

Teksturnya yang kenyal dengan corak warna-warni selalu membuat orang penasaran untuk mencobanya. Meski saat ini sudah semakin jarang ditemui, Cenil atau Cethil masih dijual di pasar-pasar tradisional. Memiliki perpaduan rasa gurih dan manis, kue ini biasa disajikan bersama kue sejenis lainnya, yakni kue Klepon dan Lupis.

Parinem menunjukkan kue Cenil, Lupis dan Klepon buatannya. –Foto: Jatmika H Kusmargana

Terbuat dari bahan utama tepung kanji, proses pembuatan kue Cenil terbilang cukup mudah. Salah seorang pembuat sekaligus penjual kue Cenil, Parinem (59), asal Bantul, mengatakan untuk membuat Cenil cukup dengan merebus tepung kanji hingga mengental. Setelah diberi pewarna, adonan kemudian dibentuk bulat memanjang, lalu potong kecil-kecil.

“Setelah itu rebus lagi sampai matang dan mengambang. Setelah dingin taburkan parutan kelapa. Cenil sudah bisa disajikan dengan tambahan juruh (gula jawa yang diencerkan),” kata wanita yang sudah 20 tahun lebih berjualan Cenil di pasar Bantul, Yogyakarta itu.

Tak jauh berbeda, pembuatan kue Lupis dan Klepon juga hampir sama dengan kue Cenil. Hanya saja bahan yang digunakan untuk membuat dua kue ini adalah tepung ketan. Sebelum dibentuk menjadi bulat untuk kue Klepon, terlebih dahulu disiapkan gula merah sebagai isian kue.  “Kalau lupis itu biasanya bentuknya dibuat segitiga. Caranya dibentuk pakai daun pisang”, jelas Parinem.

Dengan harga yang terbilang sangat murah, yakni Rp2.500-3.000 per bungkus, kue tradisional ini hampir selalu laris di pasaran. Parinem mengaku biasa membuat tiga jenis kue ini hingga 10 kilogram bahan setiap harinya. Selain disajikan dengan cara dibungkus daun pisang atau dipincuk, untuk memakan kue ini orang biasanya juga masih menggunakan lidi untuk menusuknya.

Lihat juga...