Rakyat Makin Rindu Orba

OLEH NAZIL MUHSININ

SEJAK era reformasi, setiap kali daya beli masyarakat turun akibat harga dan biaya hidup makin mahal, banyak rakyat makin rindu terhadap era orde baru dengan mengenang hal-hal yang dianggap lebih menyenangkan (seperti harga pangan, sandang, papan dan perhiasan emas yang murah dan stabil).

Dengan kata lain, ketika semua kebutuhan hidup menjadi mahal, keluhan paling nyaring tentu saja berasal dari rakyat. Kini, reformasi sering diartikan sebagai masa paling susah, karena rakyat bukannya semakin makmur melainkan justru semakin terpuruk karena harga semua kebutuhan hidup terus melonjak-lonjak.

Misalnya, harga papan, pangan dan sandang dari tahun ke tahun terus melambung. Demikian pula biaya pendidikan dasar, meski kini sudah ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tetap saja mahal, apalagi biaya pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Harga papan atau rumah, jika dibandingkan sebelum reformasi, sudah naik lebih puluhan kali lipat.

Jika pada tahun 1996 harga RSS (Rumah Sangat Sederhana) tipe 21 hanya belasan juta rupiah, kini sudah menjadi ratusan juta rupiah. Kenaikan harga ini akan terus meninggi, karena kayu semakin mahal. Misalnya, sebatang kayu dari Kalimantan untuk usuk ukuran 4X6 cm dengan panjang 4 meter pada tahun 1996 hanya berharga empat ribu rupiah kini sudah menjadi sekitar 60 ribu rupiah.

Untuk ongkos transportasi, rakyat juga terpaksa harus merogoh kocek dalam-dalam. Jika ongkos angkot pada tahun 1996 hanya lima ratus rupiah kini naik menjadi lima ribu rupiah. Bagi yang bersepeda motor, juga harus membeli bensin dengan harga sepuluh kali lipat dibanding tahun 1996.

Rindu Orba

Ketika semuanya serba mahal, rakyat semakin suka rindu dan mengenang era orde baru (orba) yang berarti juga mengenang Soeharto. Bagi rakyat kecil, Soeharto dinilai lebih berjasa dibanding semua Presiden Indonesia lainnya. Soeharto hanya dianggap punya banyak kesalahan oleh mereka yang bukan rakyat kecil yang memiliki kepentingan politik.

Kini, setelah lama ditinggalkan Soeharto, rakyat kecil hanya bisa mengenangnya. Di mata rakyat kecil, wafatnya Soeharto sama dengan matinya harapan untuk kembali menikmati kebutuhan hidup yang serba murah. Jika benar harga-harga yang melambung disebabkan oleh korupsi, maka pemerintahan di era reformasi bisa dianggap sangat korup. Dan gembar-gembor tentang pemberantasan korupsi yang bergema sejak era reformasi hingga sekarang seolah-olah hanya omong kosong saja.

Setelan Gombal

Kini, satu-satunya bagi rakyat yang masih bisa murah hanyalah sandang yang berupa gombal impor. Sebab, selama pakaian bekas dari luar negeri bisa masuk maka harganya akan murah. Misalnya, sebuah setelan jas yang di Singapura sudah menjadi gombal dan selayaknya dibuang ke tempat sampah bisa dikumpulkan dan dijual ke Indonesia dengan harga murah. Karena itu, tak perlu heran jika sekarang banyak rakyat miskin di desa-desa suka memakai setelan jas “kualitas impor” yang mereknya bisa saja sama dengan yang dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi kita.

Namun, soal sandang (gombal impor) yang murah, sebenarnya tidak terlalu penting bagi rakyat. Sebab, yang lebih penting bagi rakyat adalah papan dan pangan serta pendidikan yang murah. Rakyat Indonesia bisa saja cukup memakai pakaian yang oleh bangsa-bangsa tetangga sudah menjadi gombal. Asalkan perut kenyang, tidur nyaman dan anak-anak bisa belajar demi masa depannya, rakyat sudah senang. Sebaliknya, jika pangan dan papan sangat mahal, bahkan biaya pendidikan juga tinggi, meski rakyat bisa berpakaian bagus akan tetap hidup susah.

Tapi, meskipun susah, rakyat sekarang tidak suka mengeluh karena mengeluh tidak ada artinya. Lagi pula, banyak rakyat masih bisa menjual harta pusaka, seperti sawah dan kebun warisan, untuk membangun rumah, membeli kendaraan dan ongkos haji. Kini, jika calon haji harus antre makin lama bertahun-tahun, karena banyak sawah dan kebun memang dijual untuk ongkos haji.

Siapa pembeli sawah dan kebun? Siapa lagi kalau bukan elite politik dan kalangan pejabat yang dimanja dengan gaji dan tunjangan berlebihan dan masih juga mahir mempermainkan proyek-proyek untuk memperkaya diri. Soal akibatnya yang sangat runyam sering tidak diperhatikan, karena jika sawah dan kebun sudah dijual dan kemudian menjadi lahan tidur maka ancaman kelangkaan beras dan gula bisa diatasi dengan impor, habis perkara!***

Nazil Muhsinin, Direktur The Cibinong Center

Redaksi menerima kiriman artikel/opini dari publik. Isi naskah di luar tanggung jawab redaksi. Kirimkan artikel/opini beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi naskah yang ditayangkan.

 

Lihat juga...