Presiden Filipina Nyatakan Marawi Terbebas Militan IS

MANILA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendeklarasikan kota Marawi di bagian selatan terbebas dari militan IS, Selasa (17/10/2017).

Meskipun militer setempat menyebut, masih ada sekira 20 hingga 30 orang pemberontak masih melakukan perlawanan dan menawan sekira 20 irang sandera. Hal tersebut tidak menghalangi deklarasi oleh Duterte.

Berbicara kepada para tentara sehari setelah pembunuhan dua pemimpin aliansi pemberontak, Duterte mengatakan, bahwa pertarungan telah berakhir dan sekarang saatnya untuk memulihkan orang-orang yang terluka dan membangun kembali kota berpenduduk 200 ribu orang di pulau Mindanao tersebut.

“Dengan ini saya menyatakan bahwa Kota Marawi terbebas dari pengaruh teroris yang menandai dimulainya rehabilitasi,” ujar Duterte kepada para tentara di Marawi.

Isnilon Hapilon yang merupakan emir IS di Asia Tenggara, dan Omarkhayam Maute, satu dari dua Khalifah yang memimpin aliansi militan Dawla Islamiya, tewas dalam operasi yang ditargetkan pada Senin (16/10/2017). “Mayat keduanya telah ditemukan dan diidentifikasi,” ujar pihak berwenang setempat.

Pendudukan 148 hari oleh loyalis IS menandai krisis keamanan dalam negeri terbesar Filipina pada tahun-tahun ini. Para ahli mengatakan bahwa pemerintah telah bertahun-tahun meremehkan sejauh mana ekstremisme telah mengakar di daerah Muslim yang miskin dan terbelakang di Filipina yang mayoritas Katolik.

Juru bicara militer Restituto Padilla mengatakan bahwa meski pertarungan belum sepenuhnya selesai, pemberontak yang tersisa adalah orang-orang yang tidak lagi menjadi ancaman.

Padilla mengatakan bahwa mata-mata warga negara Malaysia Mahmud Ahmad telah berada di kota Marawi sejak dimulainya pertarungan, dan militer yakin dia masih berada di sana. Meski pihak berwenang setempat tidak dapat sepenuhnya yakin, namun mereka tidak melihat Mahmud sebagai ancaman.

“Dr. Mahmud adalah seorang akademisi, dia bukan pejuang. Kami tidak merasa dia orang yang bermasalah,” ” kata Padilla.

Beberapa ahli keamanan mengatakan Mahmud (39) perekrut terampil dan penggalang dana yang dilatih di sebuah kamp Alqaeda di Afghanistan, merupakan kandidat pengganti Hapilon sebagai pemimpin IS di Asia Tenggara. (Ant)

Lihat juga...