Petani Penengahan Lampung Menanti Dibangun Bronjong

LAMPUNG — Keberadaan sungai di Desa Gedung Harta dan Desa Penengahan Kecamatan Penengahan yang mengalirkan air ke Bendungan Ham Kawoan berkah bagi petani. Namun sungai itu juga kerap menjadi musibah tak terduga bagi pemilik lahan perkebunan di sepanjang sungai. Pasalnya akibat banjir, luapan air merusak lahan perkebunan yang dimiliki warga.

Hal ini diungkapkan Zainal Abidin, seorang pemilik lahan perkebunan kakao, kelapa, cabe Jawa serta berbagai jenis tanaman kayu lainnya. Dia mengaku merasakan dampak banjir bersama warga lain akibat rusaknya tanggul penahan bendungan di sisi barat yang berada di sisi Desa Gedung Harta dan ambrolnya dasar bendungan pada sisi sebelah Timur di Desa Penengahan.

Kerusakan akibat banjir tersebut berdampak pada jebolnya sisi bendungan berimbas terbentuk aliran sungai baru yang menggerus lahan perkebunan milik Zainal Abidin, sehingga pohon kakao miliknya hanyut terbawa arus banjir.

Kondisi kerusakan tak segera diperbaiki oleh instansi terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum(DPU). Apabila tidak dilakukan langkah nyata oleh pihak DPU, maka dikuatirkan akan memperluas longsor pada tebing sungai yang berbatasan dengan lahan perkebunan warga.

“Saat musim hujan tiba saya selalu was was karena debit air yang besar berimbas luapan sungai masuk ke lahan perkebunan mengakibatkan tanah menjadi longsor,” terang Zainal Abidin warga Desa Gedung Harta yang memiliki lahan perkebunan di dekat sungai dan Bendungan Ham Kawokan tersebut, Senin (16/10/2017)

Zainal menyebut usulan pembuatan bronjong atau gabions yang terbuat dari anyaman kawat yang diisi batu untuk mencegah erosi sungai sudah diajukan sejak lama. Namun belum mendapat respon dari pihak terkait.

Selain kerusakan pada bagian tebing sungai akibat erosi beberapa saluran irigasi bahkan mengalami kerusakan sehingga air tidak mengalir ke saluran air melainkan terbuang ke lahan perkebunan warga.

Harapan akan normalisasi sungai yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan lahan pertanian dan lahan perkebunan dengan pembuatan bronjong yang diusulkan selama beberapa tahun sebelumnya dan belum kunjung terealisasi tersebut membuat Zainal dan warga lain terpaksa melakukan proses penanaman berbagai pohon penahan longsor sungai.

Beberapa jenis pohon sengaja ditanam Zainal berupa pohon bambu, pohon jati melina, mindi, kemiri yang dipergunakannya sebagai penahan longsor pada beberapa tebing sungai bertujuan menghambat terjadinya longsor akibat banjir dan merusak lahan perkebunan miliknya.

Selain itu dengan adanya pembangunan bronjong diharapkannya akan mengalirkan air ke beberapa pintu air sehingga air yang mengalir ke sungai tidak terbuang percuma akibat kerusakan pada beberapa bagian bendungan.

Total kerusakan dampak dari erosi sungai diakui Zainal Abidin saat ini sudah mencapai puluhan meter dan berpotensi akan mengalami tambahan saat terjadi puncak musim hujan pada bulan November hingga Desember sebab sebelumnya saat banjir pada awal Oktober sudah cukup merusak sisi tebing sungai.

Tumpukan sampah limbah pertanian berdampak penyumbatan pada saluran irigasi /Foto: Henk Widi.

Dampak dari banjir pada lahan perkebunan diakui Zainal Abidin sangat terasa dengan tercabutnya beberapa bibit tanaman kakao yang ditanamnya selain itu akibat terendam dalam waktu lama akibat banjir beberapa tanaman kakao yang ditanamnya membusuk. Secara swadaya Zainal Abidin bahkan menyusun batu batu kali di dekat kebun miliknya mencegah jika sewaktu waktu terjadi banjir.

Jumadi, petani lain pemilik lahan pertanian di wilayah tersebut juga menyebut salah satu faktor penyebab kerusakan saluran air dan kerusakan bantaran sungai yang merusak lahan perkebunan dan pertanian warga akibat sampah limbah pertanian yang kerap dibuang ke sungai. Batang pisang, potongan ranting dan pohon kerap terbawa arus beberapa di antaranya masuk ke saluran irigasi mengakibatkan meluapnya sungai.

“Jika petani tidak membuang sisa limbah pertanian ke sungai pastinya tidak akan terjadi penyumbatan saluran sungai dan irigasi terutama pada saat musim penghujan,” beber Jumadi.

Dampak penyumbatan saluran air akibat sampah tersebut diakuinya menyebabkan beberapa bagian sungai tergerus bahkan mengalami pendangkalan sementara pada bagian saluran irigasi penyumbatan berimbas meluapnya aliran air menggerus bagian pondasi saluran irigasi. Jumadi yang memiliki lahan pertanian di dekat pintu air bahkan kerap harus rajin membersihkan sampah menghindari luapan air yang kerap merusak lahan sawah miliknya.

Berbagai tanaman sengaja ditanam sebagai penahan erosi saat banjir melanda bantaran sungai /Foto: Henk Widi.
Berbagai tanaman sengaja ditanam sebagai penahan erosi saat banjir melanda bantaran sungai /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...