Jadi Sentra Ternak, Kabupaten Sikka Perlu Terapkan Lima Aspek
MAUMERE — Untuk menjadi sentra produksi ternak ada lima aspek yang perlu diterapkan di Kabupaten Sikka. Semuanya itu harus dikembangkan secara fokus dan dimulai lewat satu dua kelompok tani yang benar-benar memiliki niat dan keinginan agar wilayahnya menjadi sentra ternak.
Demikian ditegaskan kepala bidang Peternakan dinas Pertanian kabupaten Sikka Yeremias Dewa saat ditemui Cendana News di kantornya, Senin (16/10/2017) terkait belum ada hasil maksimal terkait banyaknya bantuan ternak yang disalurkan.
“Pertama, subyek, para peternak yang harus ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Aspek kedua, obyek yakni ternak yang harus ditingkatkan produksi dan produktivitasnya,” jelasnya.
Selain itu tambah Yeri sapaannya, aspek ketiga yakni lahan, sebagai basis ekologi pendukung pakan, serta aspek keempat teknologi sebagai rekayasa untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak seperti teknologi pengawetan pakan dan teknologi inseminasi buatan.
Aspek pertama sambungnya,juga termasuk kapasitas kelembagaan kelompok tani. Sementara aspek kelima atau terakhir yang tidak kalah penting yakni aspek pasar. Kalau kita perhatikan seluruh aspek itu maka dalam strategi pengembangannya pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan agribisnis.
“Dalam agribisnis ada 3 sub sistem penting yakni Hulu,Tengah dan Hilir. Pada Hulu ada pemasok sarana produksi, di Tengah ada petani dan peternak yang tugas dasarnya memproduksi tanaman dan ternak dan pada Hilir terdapat pedagang atau pembeli,” terangnya.
Petani atau peternak tandas Yeri, pengetahuannya harus ditingkatkan agar bisa menyediakan produksi ternak yang berkelanjutan baik dari segi kualitas maupun kwantitas, sehingga bisa dibangun kerjasama dengan sektor hilir di mana bergerak pelaku-pelaku pemasaran, para pedagang.
Bila ini diterapkan ucapnya, maka pada suatu waktu kita berharap di suatu wilayah berkembang menjadi sentra peternakan, karena peternak di daerah tersebut bisa menyediakan ternaknya dan pedagang tidak perlu lagi mencari ternak ke pasar.
“Ini yang akan kita kembangkan ke depannya sehingga bila pemerintah ingin memberikan bantuan ternak maka akan diberikan kepada kelompok atau masyarakat di wilayah yang memang disiapkan menjadi sentra produksi ternak,” sebutnya.
Sementara itu Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri yang ditanyai Cendana News, Senin (16/10/2017) sore menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Pertanian Bidang Peternakan, tidak perlu mempunyai impian jauh agar Sikka menjadi sentra produksi ternak.
Masyarakat mampu untuk memproduksi dan keluar dari kesulitan saja kata Win sapaannya, itu sudah cukup. Untuk sampai ke tahap tersebut Dinas Pertanian bidang Peternakan belum mampu.
“Kita memberikan bantuan ternak kepada petani dan peternak harus didampingi hingga berhasil sehingga dengan sendirinya Kabupaten Sikka menjadi sentra produksi ternak bisa tercapai,” ungkapnya.
Yang terpenting dilakukan kata Win yakni mengamankan ternak yang sudah ada agar jangan sampai terkena penyakit dan mati sebab ini sangat disayangkan di mana ternak yang sudah ada tidak bisa diamankan.
“Makanya Dinas Pertanian harus mampu memfasilitasi pemeliharaan ternak di masyarakat seperti vaksinasi dan perawatan ternak terkait pengoibatan dan sebagainya agar ternak tersebut bisa berkembang biak,” usulnya.
Selama ini kan kritik Win, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka hanya menunggu. Bila ada wabah penyakit baru petugas turun ke lokasi. Padahal seharusnya petugas setiap saat turun melakukan pengawasan pemeliharaan ternak bantuan yang sudah diberikan pemerintah kepada kelompok masyarakat.
“Bila cara ini dilakukan maka ternak bantuan tidak akan mati dan berkembang biak apalagi dengan adanya kontrol terus menerus dan ini dengan sendirinya akan meningkatkan jumlah ternak dan bisa menjadi sentra ternak,” pungkasnya.