KUPANG – Penanaman padi menggunakan metode SRI (System Of Rice Intensification) yang dilakukan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) sebagai satu-satunya lembaga dana perwalian untuk perubahan iklim Indonesia dan Departemen Teknik Pertanian, Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) di Provinsi NTT sangat cocok.
Namun tekonologi yang sangat bagus dan sudah diujicoba pada lahan pertanian di Kelurahan Tarus Kecamatan Kupang Tengah dan Desa Baumata Kecamatan Tabenu Kabupaten Kupang tersebut dikatakan berhasil apabila semua petani di NTT menggunakannya.
Demikian disampaikan Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya kepada Cendana News, Rabu (25/10/2017) terkait adanya pengembangan metode SRI di Kupang dan hasil produktivitas padi pun meningkat dua kali lipat.
“Saya sudah meminta kepada Dinas PU dan Dinas Pertanian untuk terus menerus mendorong agar teknologi milik masyarakat ini benar-benar meningkatkan produktivitas. Sebab sebuah teknologi akan sukses kalau itu sudah dipergunakan semua petani dan diadopsi menjadi milik masyarakat,” tegasnya.
Lebu Raya menambahkan, teknologi SRI tersebut sangat cocok di NTT sebab menghemat air dan produktivitasnya memang dapat meningkat 2 kali lipat. Dirinya berharap penerapannya juga bisa di seluruh wilayah Provinsi NTT sebab masyarakat selama ini melihat sawah identik dengan membutuhkan banyak air.
“Masyarakat NTT selama ini melihat sawah itu selalu banyak air dan mengubah cara pandang masyarakat tentang sawah yang tidak butuh banyak air diperlukan sosialisasi terus menerus agar bisa meyakinkan petani,” ungkapnya.
Saat ini, tambah Lebu Raya, NTT masuk dalam 15 besar sentra padi dan bila proyek 7 bendungan selesai, maka bisa memberikan kontribusi besar bagi negeri ini. Paling tidak NTT bisa mandiri di sektor pangan sehingga dirinya terus mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal.
“Yang terpenting tidak ada lagi yang berteriak rawan pangan. Saya percaya teknologi ini memang bisa meningkatkan produktivitas sehingga harus dikembangkan di lahan pertanian yang ada di NTT. Khususnya di lahan sawah yang kering saat musim kemarau dan tidak dipergunakan,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yohanes Tay Ruba, saat ditemui Cendana News mengatakan, untuk NTT lahan irigasi teknis yang ada saat ini mencapai 127.308 hektar. Sedangkan irigasi non teknis termasuk lahan kering sebesar 2.379.005 hektar.
“Dari total jumlah tersebut, pemanfaatannya juga belum maksimal. Untuk lahan basah hanya sebesar 52 persen. Sementara lahan keringnya sejumlah 65,41 persen sehingga masih berpeluang untuk digarap,” paparnya.
Provinsi NTT, sebut Yohanes, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang merupakan daerah kering. Curah hujan di hampir semua wilayah di kabupaten dan kota dikategorikan rendah dengan jumlah curah hujan sebesar 20 sampai 50 mm per bulan. Total sebanyak 1.300 sampai 1.500 mm/tahun.
“Hal ini menyebabkan rata-rata petani di NTT merupakan petani lahan kering, kebun atau ladang. Hanya sebagian kecil saja yang merupakan petani lahan basah. Padahal potensi pertanian lahan basah masih sangat besar dan belum banyak digarap dimana lahan sawah yang ada sebesar 214 ribu hektar,” pungkasnya.
