Masyarakat Adat Pubabu Kosongkan Lahan, Walhi Kecam Sekda
MAUMERE – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi NTT mengecam sikap Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTT Ir Benediktus Polo Maing yang ahistoris dan arogan atau tidak menghargai mekanisme mediasi yang dilakukan oleh Wakil Gubernur NTT bersama Masyarakat Adat Pubabu Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Walhi NTT juga meminta Sekda NTT untuk segera berkoordinasi dengan Wakil Gubernur NTT atas proses mediasi yang telah dilakukan.serta melakukan dialog ulang dengan masyarakat adat juga mengharapkan agar Sekda NTT tidak mengulangi lagi perbuatannya meminta masyarakat adat Pubabu mengosongkan lahan mereka.
Demikian disampaikan Umbu Tamu Ridi, SH. Deputi Walhi NTT kepada Cendana News Rabu (25/10/2017) terkait penolakan masyarakat adat Pubabu untuk mengosongkan lahan yang dikatakan sebagai tanah ulayat Suku Pubabu.
“Kami meminta agar proses rencana eksekusi dan surat eksekusi dibatalkan serta menegur bawahan untuk tidak melakukan tindakan paksa dan menghentikan segala bentuk intimidasi kepada masyarakat adat Pubabu,” pintanya.
Umbu Tamu juga meminta DPRD Provinsi NTT agar memanggil Sekda NTT untuk mempertanyakan kebijakan Sekda NTT dan meminta penghentian upaya eksekusi pengosongan lahan seluas 378 hektar sesuai surat Sekda NTT Nomor: BU.030/105/BPPKAD/2017 tertanggal 17 Oktober 2017 perihal: penegasan tentang tanah Instalasi Besipae milik pemerintah provinsi NTT.
“Gubernur NTT harus menegur Sekda NTT yang mendatangi masyarakat adat Pubabu dengan tujuan memberikan surat untuk mengosongkan lahan dan memaksa warga menandatangani surat tersebut,” tegasnya.
Gubernur NTT juga, kata Umbu Tamu, harus membatalkan surat Sekda NTT serta mendesak pemerintah provinsi NTT termasuk DPRD NTT untuk merancang Perda yang mengakui keberadaan masyarakat adat dan hak-hak masyarakat adat yang salah satunya adalah hutan adat, sesuai dengan Putusan MK 35 atas perkara 35/PUU-X/2012.
Dominikus Karangora/Koordinator Pengorganisasian dan Wilayah Kelola Rakyat Walhi NTT menjelaskan, sebagaimana yang telah tertera bahwa tahun terbit Sertifikat Hak Pakai adalah tahun 2013, yang sebenarnya terjadi pada tahun itu adalah Dinas Peternakan Provinsi NTT dipaksa oleh masyarakat adat Pubabu untuk mengosongkan tanah atau hutan adat Pubabu yang dikontrak dari masyarakat adat Pubabu.
Masyarakat, kata Dominikus, memaksa untuk mengosongkan lahan atau hutan adat Pubabu atas dasar surat ketiga Komnas HAM yang menegaskan bahwa Dinas Peternakan NTT segera mengosongkan lokasi agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat adat Pubabu.
“Persoalan yang sempat memanas pada tanggal 17 Oktober 2017 ini tidak seharusnya terjadi apabila Sekda NTT Benediktus Polo Maing menghargai proses penyelesaian hutan adat Pubabu yang dimediasi oleh Wakil Gubernur NTT, Drs Benny Litelnoni, M.Si sebelumnya,” jelasnya.
Hasil hearing atau pertemuan yang dimediasi Wakil Gubernur NTT pada bulan Oktober 2016, Desember 2016, dan terakhir pada tanggal 25 Januari 2017, papar Dominikus, menyepakati untuk kepentingan pembangunan proyek peternakan. Wakil gubernur pun berjanji untuk membentuk tim mediasi yang akan mendiskusikan tentang lokasi pembangunan proyek Dinas Peternakan Provinsi NTT di luar lokasi hutan adat Pubabu.
“Pertanyaannya, apakah Sekda NTT yang baru ini mengetahui dan memahami bila ada proses mediasi yang dilakukan Wakil Gubernur NTT? Dan bukankah seharusnya yang datang adalah tim mediasi bukan tim eksekusi sebagaimana dijanjikan wakil gubernur.NTT?” pungkasnya.
