Pamsimas Permudah Warga Desa Gayam Akses Air Bersih
LAMPUNG — Kebutuhan akan air bersih menjadi sebuah kebutuhan vital di antara kebutuhan yang lain dalam kehidupan sehari hari. Terutama bagi kaum wanita yang setiap hari memasak, mencuci serta aktivitas lain salah satunya bagi masyarakat di Desa Gayam Kecamatan Penengahan.
Warga Desa Gayam bernama Nana (38) menyebut sejak enam tahun silam dirinya mulai memanfaatkan air bersih dari penyediaan tandon air yang dialirkan melalui sumber mata air Gunung Rajabasa dan dialirkan ke sejumlah perumahan warga melalui selang dengan cuma cuma.
Nana menegaskan keberadaan satu tandon air berkapasitas air bersih sekitar 6000 liter air bersih yang disediakan melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bidang Perumahan dan Permukiman (Perkim) sudah ada semenjak 2011.
Menjawab kebutuhan masyarakat yang kesulitan air bersih terutama saat musim kemarau sebagian warga bahkan bisa memanfaatkan pembagian air bersih dengan sistem penyaluran menggunakan selang.
“Prioritas pengguna air bersih memang disalurkan bagi warga yang tidak memiliki fasilitas sumur sementara warga yang sudah memiliki sumur masih bisa mengambil dari tandon meski tidak menggunakan selang tetapi menggunakan kran khusus,” papar Nana ketika salah satu ibu tengah mengecek saluran air melalui selang yang dialirkan ke rumah miliknya berjarak ratusan meter dari tandon, Jumat (20/10/2017)
Nana memastikan dengan keberadaan tempat penampungan air bersih yang difasilitasi oleh pemerintah membuat tidak ada lagi warga yang harus memanfaatkan air sungai seperti pada tahun tahun sebelumnya.
Selain debit air sungai yang sudah mulai berkurang sebagian warga yang tinggal di aliran sungai masih membuang sampah mengakibatkan sungai menjadi kotor dan dipenuhi sampah rumah tangga.
Sebagian warga bahkan harus membeli air bersih menggunakan galon dan tangki terlebih pada musim kemarau dan kebutuhan mandi, cuci,kakus akibat keterbatasan air bersih di wilayah tersebut sebelum keberadaan penampungan air bersih melalui program Pamsimas.
Meski di lingkungan tempat tinggal Nana bermukim sekitar 30 kepala keluarga namun pengguna air bersih dari bak penampungan Pamsimas hingga saat ini tercatat hanya belasan dengan adanya selang plastik yang dialirkan ke setiap rumah warga.
Warga lain pengguna air bersih dari Pamsimas,Risna (24) menyebut keberadaan bak penampungan air bersih tersebut semakin terasa penggunaannya saat musim kemarau dengan kondisi sumur warga yang mengalami penurunan debit air bersih.
Sebagai solusinya sebagian warga bahkan melakukan pengambilan air bersih menggunakan jerigen lalu membawanya ke bak penampungan di setiap rumah sebagai kebutuhan untuk air bersih mandi, mencuci,memasak dan aktifitas buang air besar.
“Program jambanisasi yang didukung oleh pemerintah kabupaten Lampung Selatan juga membuat warga sudah memiliki WC sehingga tidak buang air besar sembarangan di sungai”terang Risna.
Meski gratis, masyarakat pengguna air bersih secara rutin bergotong royong membersihkan bak penampungan yang dalam kurun satu bulan kerap mengendapkan lumpur sehingga harus dibersihkan.
Selain sebagai kebutuhan air bersih air yang tak pernah berhenti mengalir dengan sistem pipanisasi menggunakan pipa besi dan pvc dari Gunung Rajabasa tersebut bahkan dimanfaatkan oleh warga sebagai sarana membuat kolam ikan dan menyiram tanaman di pekarangan.
“Sayang jika airnya terbuang percuma sehingga pemanfatannya dimaksimalkan seperti oleh suami saya yang memelihara ikan gurame di pekarangan dengan kolam terpal dan permanen,” ujar Risna.
Setelah program Pamsimas berjalan dengan baik, Risna menyebut masyarakat masih mengusulkan pembangunan akses jalan dan saluran drainase di wilayah. Tanpa adanya drainase yang baik sebagian air yang menggenang menjadi lokasi berkembangnya nyamuk.
Genangan air tersebut diakui berasal dari limpahan air bak penampungan yang meluap akibat tidak terpakai sementara selokan masih terbuat dari tanah ditambah kondisi jalan terbuat dari aspal sebagian sudah rusak.
