Merebaknya Kebangkitan PKI, Pemerintah Harus Tegas

SOLO — Merebaknya isu kebangkitan PKI di Indonesia, tak dapat dipungkiri. Hal ini disuarakan kalangan purnawirawan TNI yang pernah berhadapan langsung dengan pemilik ideologi komunis tersebut. Hal ini tak lepas dari situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang mengkhawatirkan, dan hampir sama dengan suasana pada 1965.

Kondisi inilah yang dipaparkan Mayjen (Purn) Adityawarman, dalam sarasehan akbar bertajuk “Akankah PKI Bangkit lagi? Nyata atau Propaganda”, di Kompleks Gedung Umat Islam Surakarta. Dalam sarasehan ini, berbagai tanda-tanda serta situasi dan kondisi Indonesia dinilai tengah kritis.

“Situasi dan kondisi saat ini hampir sama dengan sebelum kejadian 1965. Ini yang dikhawatirkan. Karena PKI ini sangat licik, suka mengadu domba antar anak bangsa,” ungkap Adityawarman kepada Cendana News, Senin (2/10/2017).

Kebangkitan PKI di Indonesia menurut dia, sudah cukup terang. Kondisi pemerintah yang dinilai kurang tegas, membuat keberadaan komunis di Indonesia semakin mendapatkan tempat. Terlebih, komunis merupakan ideologi yang dapat tumbuh di manapun berada.

“Kita tahu kalau PKI itu bahaya laten, kita harus kenal itu. Komunis diibaratkan seperti ilalang, di tanah tumbuh, di bebatuan juga tumbuh,” urainya.

Mayjen (Purn) Adityawarman/Foto: Harun Alrosid.

Kondisi umat islam, kata Pengurus Gerakan Bela Negara (GBN) Pusat, selalu dibuat untuk tidak bersatu agar tidak memiliki kekuatan yang besar. Dampaknya, umat islam selalu kalah dalam pertarungan demokrasi, untuk memilih pemimpin. Dirinya juga prihatin, kondisi umat islam yang mudah terbeli dengan uang ratusan ribu rupiah untuk memilih pemimpin yang tidak amanah.

“Umat islam selalu dimiskinkan dan tidak pernah memenangkan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai dikalahkan dengan duit, hanya karena diberi ratusan ribu rupiah, nasib 5 tahun ke depan terabaikan,” keluh dia.

Merebaknya kebangkitan PKI, pensiunan TNI berharap agar umat Islam kembali besatu dengan TNI, seperti halnya yang terjadi pada 1965. Jika memang bersatu, maka kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini akan dapat diselesaikan.

“Yang perlu diingat, umat islam jangan banyak berharap TNI akan langsung turun untuk menangani masalah PKI seperti ’65. Sebab kalau TNI yang menangani langsung, yang terjadi justru akan menimbulkan masalah-masalah yang akan semakin besar,” tegasnya.

Menurutnya, umat Islam yang harus bergerak untuk menghalau kebangkitan PKI di Indonesia. Caranya melalui gerakan mahasiswa dan pemuda Islam untuk membentengi Pancasila dari ancaman ideologi komunis.

“Pemuda harus siaga membentengi NKRI dari komunis, karena dia ancaman yang nyata. Kita harus merapatkan barisan dengan pemimpin yang berani melawan PKI. Saat ini yang berani adalah Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, maka kita harus mendukungnya,” tambah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta, Zaenal Arifin Adnan.

Dalam sarasehan akbar bertajuk “Akankah PKI Bangkit lagi? Nyata atau Propaganda”, di yang dihelat Kompleks Gedung Umat Islam Surakarta, turut dihadiri Dr.  Muindinillah selaku Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), saksi sejarah keganasan PKI serta tokoh masyarakat Solo, Mudrick Sangidu serta Thowaf Zuharon penulis buku “Ayat-ayat yang disembelih”.

Suasana sarasehan akbar bertajuk Akankah PKI Bangkit lagi, Nyata atau Propaganda, di Gedung Umat Islam Solo/Foto: Harun Alrosid.
Lihat juga...