Merangkul Anak Muda Lewat Festival Makanan Khas Aceh

JAKARTA – Pemerintah Aceh menggelar Festival Masakan Khas Aceh 2017 di Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta, Minggu (8/10/2017), bertajuk ‘Melalui Festival Kuliner Aceh Kita Bina Generasi Muda Indonesia Untuk Mencintai Seni Budaya Bangsa’.

Kepala Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur, mengatakan, sesuai temanya, maka peserta festival adalah generasi muda Indonesia yang punya kepedulian terhadap seni budaya daerah di bidang kuliner. Menurutnya, festival ini sudah diselenggarakan 9 kali hingga hari ini.

Festival pertama sampai kedua pesertanya adalah komunitas. Kali ini festival tahun 2017 potensi generasi muda yang berada di usia pendidikan memberi respon positif terhadap lomba kuliner Aceh.

“Festival Masakan Khas Aceh 1-8 pesertanya itu etnis komunitas. Festival ke-7 tahun 2017 ini, kita sudah berkiblat ke generasi muda tidak hanya keturunan Aceh, tapi Jawa, Batak, dan lainnya,” kata Cut, kepada Cendana News, di sela acara, Minggu (8/10/2017).

Cut menegaskan, kuliner Aceh sangat erat kaitannya dengan adat budaya. Karena di setiap hari besar ataupun peringatan acara akan selalu ada makanan khusus yang menjadi ciri khasnya. Kekayaan kuliner ini tentunya dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal, nasional serta mancanegara untuk berkunjung ke Aceh.

Apalagi, lanjut dia,  provinsi Aceh ini merupakan salah satu wisata halal nasional. Sepertinya pada festival ini mengangkat menu khas Aceh, yaitu Nasi Gurih yang harus dipadukan dengan pendamping menu khas Aceh juga.

“Nasi Gurih itu bukan hanya untuk sarapan pagi, untuk makan siang dan malam juga bisa. Yang penting tujuh menu sehat pendampingnya, terpenting halal,” tegasnya.

Cut menyebutkan, Aceh satu-satunya anjungan yang menyelenggarakan festival kuliner yang spesifikasinya untuk anak sekolah, tidak hanya pelestarian seni tari dan nyanyi seperti anjungan lain.

“Yang berhubungan dengan kuliner menyentuh generasi muda baru anjungan Aceh. Lewat festival ini, kami edukasi generasi muda untuk melestarikan budaya bangsa.  Festival ini bukan membawa anjungan, tapi nama pemerintah Aceh,” paparnya.

Selain festival kuliner, jelas Cut, anjungan Aceh juga menggelar lomba MTQ, dan perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, yang tidak pernah dilakukan anjungan lainnya. Ini menurutnya, kegiatan yang merupakan ciri khas Aceh yang tidak hanya melestarikan seni budaya tari dan nyanyi, tapi juga kuliner dan acara bernuansa Islami.

Ketua Panitia Festival Masakan Khas Aceh, Emelda Suraiya, menambahkan, memasuki tahun ke-9, festival ini diikuti 11 tim dari SMK se-Jabodetabek. Setiap satu tim terdiri dari tiga orang, yaitu juru masak, juru saji, dan juru bicara.

“Festival ini adalah dalam rangka melestarikan budaya budaya bangsa khususnya makanan tradisional Aceh,” kata Emelda kepada Cendana News.

Menurutnya lagi, upaya yang dilakukan untuk melestarikan kuliner Aceh telah membuahkan hasil pada 2014 hingga 2017, berturut-turut wakil Aceh menjadi juara dalam festival makanan pada HUT TMII di panggung nusantara. “Tentu menjadi juara bukan tujuan kami semata. Namun yang lebih penting makanan Aceh layak tanding dan diperhitungkan di tingkat nasional,” kata Emelda.

Lewat Festival Makanan Khas Aceh 2017 yang pesertanya siswi SMK, Emelda berharap generasi muda tersebut juga bisa mencintai budaya bangsa dan melestarikan kuliner Aceh tidak hanya di kancah nasional, tapi juga dunia.

Adapun Manager Informasi, Budaya, dan Wisata TMII, Ertis Yulia mengatakan, festival kali ini menyajikan Nasi Gurih khas Aceh, diharapkan peserta bisa menyajikannya dengan cita rasa yang khas. Begitu juga dengan menu pendampingnya yang juga khas Aceh. “Diharapkan ada kreasi tampilan menu dengan cita rasa yang menimbulkan sensasi yang bisa membuat orang tertarik untuk menikmati,” ujar Ertis.

Adapun kriteria penilaian, lanjutnya,  adalah cita rasa, tata saji, kreasi, kehigenisan (kebersihan), dan pengusaan materi. “SMK 57 Jakarta group C memenuhi kriteria tersebut, dan layak jadi juara. Tapi, semua peserta adalah pemenang tidak ada yang kalah,” kata Ertis.

Ertis membenarkan, bahwa baru anjungan Aceh yang menggelar festival kuliner dengan menyentuh generasi muda. Dia berharap anjungan lain bisa mengikuti jejak anjungan Aceh ini.

“TMII ini wahana edukasi, diharapkan seluruh anjungan juga bisa mengadakan festival kuliner. Karena budaya itu luas, termasuk pelestarian kuliner tidak hanya berbau seni tari saja,” ujarnya.

Dalam pengembangan festival kuliner ini, Ertis berharap agar lebih menarik bisa dipadukan dengan gerak dan tari khas daerah. Misalnya, peserta itu memasak sambil berdendang, akan lebih menarik.

Rohana, salah satu warga perwakilan Aceh yang sengaja datang menyaksikan festival ini mengaku senang dan mendukung acara ini. Menurutnya, pelestarian budaya Aceh termasuk di dalamnya kuliner khas Aceh harus diperkenalkan kepada generasi muda di seluruh Indonesia.

“Saya setiap tahun selalu hadir menyaksikan festival ini. Kali ini berbeda pesertanya anak muda, saya bangga dan mendukung, meskipun sangat disesalkan anak muda Aceh tidak ada yang ikut,” pungkas Rohana.

Lihat juga...