Lahan 25 Hektare jadi Percontohan Pengendalian Wereng
YOGYAKARTA – Lahan seluas 25 hektar di Dusun Gedangan, Panjangrejo, Pundong, Bantul menjadi percontohan ujicoba pengendalian hama Wereng Batang Cokelat (WBC) yang selama ini menjadi masalah utama yang mampu merusak tanaman padi pada skala luas dalam waktu singkat, sehingga dapat menyebabkan puso.
Pengendalian hama ini dilakukan Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Balitbangtan RI, dengan penerapan desiminasi Varietas Unggul Baru (VUB) padi tahan Wereng Batang Cokelat (WBC) melalui implementasi teknologi budidaya jajar legowo super dengan penanaman secara serempak menggunakan mesin tanam transplanter.
Pelaksanaan pengendalian hama WBC ini ditandai dengan penanaman benih padi VUB tahan wereng Inpari 33 dan Inpari 31 oleh Irjen Kementerian Pertanian (Kementan) Justan Riduan Siahaan, dan Bupati Bantul, Suharsono disaksikan Kepala BPTP Yogyakarta, Joko Purnomo bertempat di Kelompok Tani Tri Lestari, Gedangan Panjangrejo Pundong, Bantul, Rabu (4/10/2017).
Irjen Justan mengatakan, ujicoba pengendalian hama wereng ini dilakukan untuk mencegah penyebaran WBC agar tidak berkembang di satu demplot serta daerah lahan pertanian lainnya. Melalui upaya inilah diharapkan dapat mencegah penurunan produksi pertanian, sekaligus mendukung upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan.
“Memang serangan hama wereng ini ada, seperti di daerah Indramayu dan Cirebon. Namun belum sampai menimbulkan puso dan mengganggu produksi pertanian nasional. Bahkan di DIY, tidak ada puso. Ini patut kita apresiasi. Semoga dengan upaya ini produksi semakin naik,” katanya.
Bupati Bantul, Suharsono, mengatakan pihaknya akan terus mendorong upaya perubahan sistim pertanian tradisional melalui percepatan penggunaan teknologi pertanian. Termasuk juga menjaga stabilitas harga beras, dengan membangun lumbung-lumbung pangan agar petani tidak merugi.
“Rencananya pengendalian hama wereng ini akan kita terapkan di seluruh wilayah Bantul. Meskipun Bantul tidak ada puso, namun penanganan wereng ini harus terus dilakukan. Sebagai antisipasi. Karena wereng juga menyesuailan. Jangan sampai ada wereng jenis baru yang mengganggu,” katanya.
