Hujan Tiba, Produksi TBS Petani Sawit Lampung Selatan Meningkat
LAMPUNG — Pasca musim kekeringan yang melanda wilayah Lampung Selatan hingga September berimbas pada lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Batuliman Kecamatan Candipuro, Kecamatan Sragi dan Penengahan mengalami penurunan produksi.
Harun, salah satu petani pekebun sawit di Desa Batuliman mengungkapkan sebagian petani di Kecamatan Candipuro mulai bernafas lega pasca hujan mengguyur wilayah Lampung Selatan sejak akhir September hingga Oktober. Dampak positif diakuinya dengan mempengaruhi proses pembungaan dan pematangan buah sehingga hasilnya lebih meningkat.
Harun melakukan sistem panen secara parsial setiap 20 hari sekali. Dia menyebut panen Tandan Buah Segar (TBS) pada sekitar 500 batang sawit miliknya cukup baik dibandingkan saat kondisi cuaca kemarau.
Saat kemarau ia bisa memanen sekitar 100 tandan buah segar sekali panen sementara setelah curah hujan mulai membaik panen bisa mencapai 150 tandan buah segar dengan berat kotor masing masing 8 kilogram.
“Saat kemarau penyusutan tandan buah segar sawit memang sangat terasa namun dengan curah hujan yang sudah membaik berimbas pada kualitas buah sawit termasuk mendukung berat isi buah sawit,” kata Harun saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pengangkutan tandan buah segar sawit di kebun miliknya, Senin (30/10/2017)
Perawatan kebun sawit yang baik didukung cuaca yang kondusif,pemupukan optimal menjadi faktor penentu kenaikan produksi pada periode panen Oktober bahkan hingga akhir tahun ini. Selama musim kemarau Harun dan sebagian besar petani pekebun sawit menggunakan pupuk kompos dari kotoran ternak sapi, kerbau dan kambing. Pemupukan dilakukan pada area tanaman sawit sekaligus melakukan pembersihan rumput liar pengganggu di sekitar lahan sawit.
Tujuan pemupukan dengan volume yang cukup beragam tersebut diakuinya cukup efektif karena selanjutnya menjelang curah hujan mulai membaik tambahan pupuk kimia berupa pupuk cair organik sebagai pemacu buah dari jenis pupuk Nasa menghasilkan buah yang lebih baik.
Panen yang dilakukan beberapa minggu sekali tersebut menjadi penghasilan rutin para petani dengan rata rata hasil Rp500 ribu sekali penjualan yang langsung ditimbang dan diangkut pengepul ke kebun.
Beruntung meski produktivitas belum maksimal dengan prediksi panen sekitar 200 tandan buah segar setiap beberapa pekan sekali ia mengaku harga di tingkat petani saat ini masih berkisar Rp900 per kilogram meski sebelumnya sudah menembus angka Rp1.200 per kilogram bahkan bisa melejit ke angka Rp1.500 per kilogram meski harga tersebut dinikmati para pengepul.
Petani sawit lainnya,Joni mengakui datangnya musim kemarau membuat produksi buah sawit segar pada lahan miliknya mengalami tingkat stres yang tinggi. Hal ini membuat produksi berkurang karena tanaman lebih fokus pada pemulihan bagian daun dan pelepah paska yang mengalami kekeringan. Pemulihan setelah hujan pada bagian tanaman diiringi dengan pembungaan dan pembuahan diharapkan akan memaksimalkan hasil setelah curah hujan membaik.
“Curah hujan sangat berpengaruh signifikan pada produksi tandan buah segar terutama pada tanaman berumur lebih dari empat tahun,” ujar Joni.
Beberapa tanaman sawit yang sudah tidak produktif pada beberapa areal perkebunan diakuinya sengaja ditebang dan diremajakan kembali dengan tanaman baru. Namun bagi sebagian petani lain lahan tanaman sawit dirombak menjadi perkebunan coklat sebagian terimbas proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
