LAMPUNG — Sejumlah perajin kopra dan pemilik perkebunan kelapa mulai merasakan dampak penurunan harga jual kelapa kering atau kopra pada tingkat pengepul yang dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng tersebut.
Keluhan penurunan harga kopra tersebut salah satunya disampaikan Jemiyo (40), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, pemilik usaha kopra sekaligus pengepul yang membeli kelapa dari petani dan mengolahnya menjadi kopra untuk dikirim ke pabrik minyak goreng di kota Panjang Bandarlampung.

Anjloknya harga tersebut dikatakan sudah terjadi di tingkat pengepul, sehingga petani yang memiliki kelapa dan membuat kopra sendiri lalu menjual ke pengepul dibelinya dengan harga Rp5.000 per kilogram.
“Penurunan sudah terjadi pada level pemasok untuk pabrik, sehingga kami tak bisa berbuat banyak menaikkan harga. Kemungkinan sedang banjir panen kelapa atau memang perusahaan sedang mengurangi produksi minyak goreng, sehingga serapan kopra ikut berkurang sekaligus harganya turun”, terang Jemiyo, Sabtu (21/10/2017).
Dalam sepekan, Jemiyo mengaku menjual kopra ke distributor yang ada di Kalianda sebanyak 200 kilogram lebih, yang merupakan sisa dari hasil penyortiran kelapa gelondongan atau kelapa bulat yang berkualitas baik dengan ukuran yang besar.

Fluktuasi harga kopra tersebut juga dirasakan Julianto (34), yang menekuni usaha pembuatan kopra sejak beberapa tahun lalu, dan pernah merasakan penjualan kopra hingga Rp11.000 per kilogram, terutama saat musim kemarau jumlah pasokan kelapa menurun dari tingkat petani.
Kini, saat harga anjlok di angka Rp6.500 tidak lantas membuat dirinya melakukan penghentian produksi kopra, melainkan menyiasati dengan dominan menjual kelapa gelondongan setelah melalui proses penyortiran.
“Sebetulnya ada tiga sumber penghasilan bagi pengusaha jual beli kelapa, yakni dengan menjual kopra, kelapa gelondongan, limbah serabut kelapa serta air kelapa untuk bahan pembuatan nata de coco,” beber Julianto.
Harga jual kelapa gelondongan kualitas bagus diakuinya kini dijual Rp5.000 per buah, kualitas sedang Rp4.000 dan kualitas kecil Rp2.000 per buah sebagai bahan pembuat santan yang bisa turun mengikuti jumlah pasokan kelapa dari petani kelapa. Harga kelapa gelondongan tersebut kerap berubah terutama menjelang hari besar keagamaan dan menjelang tahun baru.
Selain memanfaatkan beberapa bagian kelapa, limbah batok kelapa dan serabut kelapa diakuinya dibeli pembuat coco peat, bahan pupuk kompos dengan harga Rp1.000 per karung serta batok kelapa Rp1.000 per dua karung sebagai bahan baku pembuatan arang batok kelapa dan air kelapa dibeli perajin nata de coco seharga Rp5.000 per jerigen berisi 20 liter air kelapa.
Julianto memaksimalkan semua potensi kelapa tersebut, dan sebagian hasilnya dipergunakan sebagai biaya operasional lima pekerja yang membantunya mencungkil dan melakukan proses pembuatan kopra di penggarangan (tempat mengeringkan kelapa dengan proses pengasapan).
Perubahan harga kopra diakuinya ikut memukul sektor usaha produsen kopra, meski ia tetap yakin harga akan kembali naik menjelang pergantian tahun sekaligus memantau pergerakan harga kopra yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Selain menyiasati anjloknya harga kopra, dirinya sebagai pebisnis jual beli hasil pertanian juga melakukan pengepulan hasil pertanian lain berupa coklat dan cengkih.
Menurutnya, di wilayah Lampung Selatan, pada musim panen Oktober ini harga coklat semula Rp23.000 per kilogram mulai bergerak turun di angka Rp20.500, sementara harga cengkih semula Rp120.000 menjadi Rp100.000 per kilogram. Upaya mengurangi kerugian dalam usaha jual beli hasil pertanian dilakukan oleh Julianto dengan memiliki lapak di daerah Serang Banten untuk mempermudah distribusi langsung ke konsumen, meski untuk komoditas kopra saat ini hanya dijual di wilayah Panjang Bandarlampung.
“Harapan kami produsen kopra harga bisa stabil di angka Rp10.000, sehingga biaya operasional bisa ditutupi termasuk untuk menggaji karyawan”, tutup Julianto.