Gulali, Permen Unik Masih Disukai hingga Kini

LAMPUNG — Permen gulali masih menjadi jajanan tradisional yang disukai oleh anak-anak. Sebelum muncul berbagai jenis permen pabrikan, gulali kerap ditunggu oleh anak-anak saat sekolah dan saat di rumah.

Selain berbagai karakter binatang dan mainan,gulali berbentuk terompet isi susu coklat jadi favorit bagi Roby dan anak anak lain. [Foto: Henk Widi]
Hidayat (50), salah satu pedagang gulali keliling asal Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, menyebut sudah berjualan gulali bersama dua orang anaknya yang berasal dari Garut dan merantau ke Sumatera untuk mencari peruntungan sebagai penjual permen gulali.

Baginya, berjualan gulali menjadi sebuah aktivitas sehari-hari karena dirinya tidak memerlukan modal yang besar, bahkan bisa dijajakan sembari berkeliling ke perkampungan dan banyak disukai anak-anak, bahkan orang dewasa. Proses pembuatan gulali, menurut Hidayat, menggunakan gula jawa dan terkadang menggunakan gula pasir seperti yang dijajakannya setiap hari ke beberapa sekolah yang ada di wilayah Bakauheni, yang sebagian melaksanakan kegiatan belajar dari pagi hingga siang hari, dan sebagian dari siang hingga sore hari.

Setiap hari, ia menyiapkan dua kilogram gula pasir untuk digunakan sebagai bahan pembuatan gulali yang selanjutnya dibentuk menjadi berbagai jenis kreasi unik, di antaranya hewan, burung, ayam, mainan, pesawat, mobil, terompet, sehingga anak menyukainya termasuk keinginan anak-anak yang minta dibuatkan karakter tertentu, seperti Upin Ipin atau super hero.

“Saat ini, banyak anak anak meminta dibuatkan gulali yang dibentuk menjadi terompet di dalamnya diisi dengan susu coklat. Sembari menunggu gulali selesai dibuat, anak-anak bisa melihat proses pembuatan gulali sembari saya beratraksi dan terkadang mendongeng,” terang Hidayat, saat ditemui Cendana News di desa Kelawi, Kecamatan Penengahan, berdekatan dengan lokasi sekolah tingkat SD hingga SMA, Sabtu (7/10/2017).

Aktivitas mendongeng tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Sebab, sebagian besar gulali yang dibuat Hidayat merupakan bentuk-bentuk hewan unik, sehingga dongeng atau cerita binatang (fabel) dikisahkan bersamaan dan sesuai dengan permintaan anak-anak.

Dongeng tersebut salah satunya tentang angsa putih yang sebelumnya merupakan seorang putri dan dikutuk menjadi seekor angsa karena kesombongannya, dan berhasil ditolong oleh seorang pemuda pembuat terompet. Proses pembuatan gulali disertai improvisasi mendongeng tersebut dikatakan untuk menghilangkan kebosanan saat anak-anak menunggu gulali buatannya.

Hidayat yang sebelumnya pernah berjualan pakaian, mengatakan, gulali berbagai kreasi sebagai jajanan juga merupakan sarana edukasi anak-anak, karena gulali gula putih selayaknya mainan yang bisa dibentuk dan bisa dimakan. Berbagai karakter mainan anak-anak bahkan bisa digunakannya sebagai sarana memberikan pelajaran moral pada setiap dongeng yang diceritakannya.

“Sekali proses pembuatan gulali gula pasir sebetulnya bisa dipercepat, namun sembari mendongeng saya buat agak lama, bahkan berbagai kreasi yang sudah saya buat layaknya wayang berbagai tokoh melengkapi dongeng yang saya buat”, terangnya.

Pesan moral dalam beberapa dongeng yang diceritakannya secara singkat sembari membuat gulali, di antaranya agar anak tidak sombong, rajin membantu, menolong sesama dan menghormati orang tua. Selain itu, menjadi pribadi yang jujur, agar tidak seperti tokoh pinokio atau karakter binatang yang ia buat dalam bentuk berhidung panjang akibat suka berbohong.

Selain jajanan tradisional yang diminati anak-anak tersebut harus tetap dilestarikan dengan banyaknya jajanan mengandung zat pengawet, Hidayat menyebut kembali memperkenalkan jajanan tradisional yang habis dalam sehari dan dibuat hari itu juga. Selain itu, ia memiliki kesempatan untuk mendongeng bagi anak-anak yang membeli gulali berbagai kreasi yang unik buatannya.

“Saya sudah memiliki dua cucu, sehingga kerap mendongeng dan saat berjualan membuat gulali berbagai karakter dongeng rupanya banyak disukai anak anak”, beber Hidayat.

Gulali berbahan gula pasir yang dibuat sejak pagi, disiapkan dengan proses pengolahan gula pasir, asam citrun, pasta pandan,s trawberry dan pewarna alami lain yang dimasak dalam wajan hingga terbentuk gulali beragam warna dan dimasukkan dalam wajan khusus untuk dibawa keliling, lengkap dengan plastik pembungkus, susu coklat serta stik bambu sebagai pegangan.

Gulali berbagai kreasi dengan karakter unik, di antaranya binatang serta mainan lain dijual seharga mulai Rp2ribu, Rp3ribu hingga Rp5ribu menyesuaikan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan serta tambahan campuran susu coklat yang banyak diberikan pada gulali berbentuk terompet. Dalam sehari, dengan membuat gulali sebanyak 2 kilogram gula, Hidayat bisa membawa pulang uang ratusan ribu rupiah.

Roby, salah satu siswa SD di Kelawi, mengaku menyukai permen gulali ditambah penjualnya yang unik, karena suka mendongeng sembari berjualan. Berbagai bentuk kreasi gulali pasir putih yang banyak disukai anak-anak, menurut Roby, di antaranya berbentuk terompet dengan pegangan dari stik bambu serta di dalamnya berisi susu coklat.

“Rasanya manis dan bentuknya bisa dipesan sesuai keinginan, karena kreasi unik dibuat sembari mendongeng biar kami tidak bosan karena kalau membeli kadang harus mengantri,” terang Roby.

Bukan hanya diminati oleh anak-anak SD, bahkan beberapa siswa SMP dan SMA masih banyak yang membeli jajanan permen gulali yang unik sebagai jajanan tradisional yang masih tetap ada dijajakan oleh Hidayat. Meski berbagai jajanan unik lain semakin banyak, beberapa anak dengan setia menunggu Hidayat membuat gulali dengan dongeng menarik sembari menyelesaikan pembuatan gulali.

Lihat juga...