KARANGASEM — Warga Desa Muncan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali mengenang letusan Gunung Agung 1963 yang meluluhlantakkan sebagian besar kawasan pedesaan di lereng gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut.
“Ketika itu saya berusia sekitar tujuh tahun. Saya masih sangat ingat bagaimana awan panas dan juga lahar mengalir di sungai dekat desa,” kata Made Tunas (62), seorang warga Desa Muncan, Jumat (6/10), Ia menceritakan bagaimana bencana terjadi begitu dahsyat menyebabkan ribuan korban berjatuhan termasuk puluhan warga desa yang ketika itu berpenduduk tidak terlalu banyak.
Ketika Gunung Agung mulai menandakan akan meletus, warga yang berdiam di sekitar lereng tidak serta merta mengungsi. Banyak yang tetap bertahap di rumah masing-masing bahkan hingga enam bulan setelah letusan pertama terjadi.
“Saya sendiri masih ingat ketika itu diajak bapak mengungsi setelah enam bulan gunung meletus. Kami mengungsi ke wilayah Nongan. Ketika itu belum ada kendaraan. Ngungsi ya harus jalan kaki,” tuturnya.
Desa Muncan ketika itu memang tidak teraliri lahar, namun awan panas sempat menerjang sejumlah wilayah. Bukan hanya itu saja, banyak warga tewas karena meminum air di sungai yang tercemari zat berbahaya berasal dari material letusan.
“Penduduk di sini banyak yang jalan kaki menuju pengungsian. Di tengah jalan saat mengungsi banyak yang kehausan dan akhirnya meminum air sungai. Setelah minum beberapa saat setelah itu semuanya mati,” terangnya.
Tunas membandingkan keadaan ketika Gunung Agung akan meletus pada 1963 lalu dengan sekarang. “Saat ini gawat sekali. Belum apa-apa warga sudah diimbau mengungsi. Kalau dulu itu aman-aman saja pada awalnya. Ketika gunung mulai mengeluarkan asap besar baru akan meletus itu,” ungkap dia.
Tunas pun memilih tinggal di rumahnya di Desa Muncan yang berjarak kurang lebih 11 kilometer dari puncak Gunung Agung itu karena masih merasa aman, meskipun sanak keluarganya memilih mengungsi ke Kota Denpasar.
“Saya tetap di rumah. Anak-anak memang sudah ngungsi semua ke Denpasar. Saya pilih jaga rumah dan bersih-bersih rumah,” demikian Tunas.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas kegempaan Gunung Agung masih berada pada level tinggi. Gempa dalam satu hari rata-rata berkisar antara 600-700 kali. Hal tersebut menandakan gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut masih sangat mungkin untuk meletus.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat data terakhir jumlah pengungsi mencapai 150.109 tersebar di 420 titik di sembilan kabupaten/kota di Bali (Ant).