Penggalian Fosil Dilarang, Perajin Sangiran Cari Bahan Baku

SRAGEN — Sejumlah perajin yang ada di sekitar Museum Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mencoba menyiasati kebutuhan bahan baku seiring dengan dilarangnya penggalian besar-besaran batu fosil di kawasan tersebut.

“Kalau dulu memang para perajin banyak yang menggunakan bahan baku batu fosil yang ada di sekitar sini, tapi lama-kelamaan kan menipis,” kata salah satu perajin yang juga Ketua Koperasi Penrajin Sangiran Bambang Sugiyanto di Sragen, Jumat (6/10).

Ia mengatakan pada awalnya bahan baku yang banyak digunakan oleh perajin yaitu batu mani gajah. Batu ini merupakan produk batu lokal Sangiran sehingga tidak sulit untuk mendapatkannya.

“Awalnya tidak begitu laku, lantas mulai banyak yang mencari sehingga pemesanan mengalami peningkatan yang luar biasa. Dengan begitu tentu volume produksi juga meningkat,” katanya.

Selanjutnya, Bambang mengatakan peningkatan tersebut berdampak pada makin langka dan mahalnya bahan baku mani gajah. Apalagi pada saat itu Badan Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran ( BPSMPS) tidak memperbolehkan penggalian yang terlalu banyak.

“Oleh karena itu, banyak penrajin yang berinisiatif untuk mendatangkan bahan baku dari luar daerah, yaitu dari Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Meski demikian kami terkendala dengan harganya yang cukup mahal, untuk 1 kilogram harganya antara Rp200.000-500.000,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada sulitnya penrajin untuk melakukan produksi. Bahkan, jika sebelumnya jumlah pengrajin mencapai ratusan, untuk saat ini yang aktif tinggal 20 penrajin.

Oleh karena itu, seiring dengan berjalannya waktu Bambang mengajak para pengrajin untuk membuat patung khas Sangiran dengan bahan baku lain yaitu serbuk gergaji.

“Dengan membuat patung dari serbuk gergaji ini saya tidak meninggalkan khas Sangiran, yaitu patung homo erectus. Kualitas patung juga tidak kalah dibandingkan dengan dari batu karena saya menggunakan kawat sebagai kerangka patung sehingga meski jatuh tidak akan hancur,” katanya.

Dengan inovasinya tersebut, pihaknya bisa terus memenuhi pesanan ekspor. Saat ini, tiga bulan sekali Bambang bisa melakukan ekspor minimal 30 kg.

“Produknya bukan hanya patung tetapi juga topeng dan kalung dari bahan baku batu beras. Sejauh ini peminatnya cukup banyak,” katanya (Ant).

Lihat juga...