Cegah Longsor, Warga Tanam Pohon di Bantaran Sungai

LAMPUNG – Puluhan warga di Desa Gayam Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan mulai was-was dengan datangnya musim penghujan yang melanda wilayah tersebut. Terutama bagi sebagian besar warga yang tinggal di dekat bantaran Sungai Way Gayam.

Sobri (34) warga yang tinggal sekitar 15 meter dari Sungai Way Gayam mengaku, insiden rumah warga yang hanyut terbawa air sungai beberapa tahun silam diakuinya tidak lantas membuat dirinya berniat pindah meski dirinya tinggal di dekat sungai.

Sobri bahkan menyebut, beberapa bagian aliran Sungai Way Gayam sebagian sudah berada dalam kondisi longsor. Meski sebagian alur sungai telah dibangun talud sementara beberapa bagian sungai lain masih dalam kondisi rawan longsor. Sebagian warga termasuk dirinya mempergunakan peralatan seadanya dengan membuat tonggak kayu diisi dengan konstruksi batu akibat tidak memiliki biaya untuk membuat talud penahan.

Sungai Way Gayam Kecamatan Penengahan dengan perumahan warga di sekitar bantaran sungai. [Foto: Henk Widi]
“Saya bahkan sudah menanam puluhan pohon pencegah longsor sekaligus menghindari lahan yang saya miliki habis akibat banjir. Seperti beberapa tahun silam sekitar lima meter tergerus air sungai saat hujan deras mengakibatkan luapan Sungai Way Gayam,” terang Sobri, salah satu warga Desa Gayam Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News di dekat rumahnya yang berada di bantaran Sungai Way Gayam, Jumat (20/10/2017).

Beberapa pohon yang sengaja ditanam pada lahan yang dimiliki oleh Sobri diakuinya berupa tanaman jati gamalina, pohon mindi, bambu, medang serta bayur yang sebagian berfungsi sebagai pagar penahan abrasi alami. Sebagian tanaman tersebut bisa dipergunakan daunnya sebagai pakan ternak kambing. Meski tinggal di dekat sungai namun akibat tidak memiliki lahan lain Sobri mengaku tetap bertahan di wilayah yang cukup rawan bencana alam banjir dan tanah longsor tersebut.

Sobri menegaskan, usulan ke pemerintah desa hingga ke kabupaten khususnya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta pihak terkait di antaranya Dinas Pekerjaan Umum sudah dilakukan. Meski usul tersebut belum terealisasi di beberapa bagian namun pada beberapa bagian sudah dibangun talud setelah beberapa bagian ambrol. Usulan bahkan pernah disampaikannya saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat Kecamatan Penengahan dengan harapan usulan bisa ditampung dan direalisasikan. Meski ia menyebut hingga kini belum terealisasi dengan banyaknya prioritas pembangunan pada bidang lain yang lebih penting.

Lokasi yang rawan longsor dan pernah diterjang banjir membutuhkan pembuatan talud. [Foto: Henk Widi]
“Kalau musim kemarau kami sekitar puluhan kepala keluarga tidak khawatir, namun semakin was-was ketika musim hujan seperti beberapa pekan terakhir. Jika banjir besar aliran sungai melanda,” terang Sobri.

Kekhawatiran akan longsor serta banjir yang berpotensi terjadi selama musim hujan akhir-akhir ini juga diakui oleh Diana (50) warga Desa Gayam yang tinggal tak jauh dari bantaran sungai. Ia menyebut, potensi banjir yang bisa terjadi pada saat musim penghujan selain bisa mengakibatkan longsor bantaran sungai juga berimbas membahayakan perumahan warga. Diana menyebut, masih mengingat beberapa tahun sebelumnya perumahan warga menjadi korban akibat banjir melanda wilayah Sungai Way Gayam dampak dari longsornya bantaran sungai pada tahun 2010.

“Harapan kami agar pihak terkait bisa membangun talud atau beronjong di sepanjang sungai yang berpotensi terimbas banjir karena bencana banjir bisa terjadi kapan saja. Pada musim hujan yang sudah mulai turun akhir-akhir ini,” ungkap Diana.

Selain faktor hujan deras yang sudah kerap terjadi dalam beberapa pekan terakhir bulan Oktober, kekhawatiran akan banjir di wilayah tersebut dengan masih adanya sebagian masyarakat yang memanfaatkan aliran sungai sebagai lokasi membuang sampah. Diana menyebut, sebagian pembuang sampah justru merupakan warga yang tinggal jauh dari bantaran sungai dan membuang sampah pada malam hari tanpa diketahui warga sekitar sungai.

Warga lain yang khawatir akan dampak banjir luapan Sungai Way Gayam yang mengalir menjadi satu ke Sungai Way Pisang bahkan memanfaatkan batu-batu kali yang bisa diperoleh di sepanjang sungai dengan membuat talud alami melalui penyusunan batu kali sebagai penahan longsor. Batu-batu kali yang telah disusun tersebut selanjutnya diberi patok kayu dan diperkuat dengan penanaman pohon bambu yang bisa tumbuh sebagai penahan longsor alami bantaran sungai.

Diana, warga Desa Gayam mencari kayu di dekat aliran sungai. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...