Aquascape, Seni Berkebun di Bawah Air

LAMPUNG — Seni atau hobi aquascape yang mulai digemari masyarakat Lampung Selatan, yang merupakan seni mengatur tanaman air, batu, atau kayu secara estetika dalam sebuah akuarium atau dikenal dengan berkebun di bawah air, masih belum dikenal luas dibandingkan hobi memelihara ikan di dalam akuarium.

Menurut Febrial (34), warga Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, aktivitas aquascaping masih terbatas di kalangan penghobi yang belajar secara otodidak dari internet tentang tata cara proses aquascape dan berbagai aliran yang diikuti dalam hobi tersebut.

Peserta memperhatikan dengan seksama tahapan pembuatan aquascape termasuk Febrial (baju putih). [Foto: Henk Widi]
Berdasar minimnya penghobi dan belum dikenalnya hobi aquascape tersebut, Rumah Akar Raja Baca menggelar pelatihan pembuatan aquascape gratis untuk umum.

Febrial sebagai pemilik Rumah Akar Raja Baca bekerja sama dengan Komunitas Aquascape Lampung Selatan Akar Kayu Andalas atau Kalianda Aquascape, mengadakan pelatihan pembuatan aquascape secara gratis. “Pada saat pelatihan, kami sengaja menggunakan cara yang berbeda. Jika dalam pelatihan lain harus membayar, namun bagi yang ingin ikut pelatihan bisa mendonasikan buku bacaan seperti komik, sains, sejarah, seni budaya, buku umum sebagai tiket pelatihan”, terang Febrial, Minggu (22/10/2017).

Sebagai sebuah kegiatan yang menghasilkan sebuah karya sekaligus aktivitas rekreasi mengisi akhir pekan, Febrial menyebut di lokasi rumah akar raja baca miliknya juga rutin digelar berbagai pelatihan pembuatan karya seni lain di antaranya pembuatan topeng, sovenir berbentuk Siger serta karya seni lain bersumber dari kayu, akar bekas bernilai seni.

Karya seni berupa aquascape, topeng, sovenir siger, dan kerajinan lainnya di rumah akar raja baca yang selama ini sudah dibuat akan dijual dan hasilnya sebagian besar akan disumbangkan kepada anak-anak sekolah terkhusus yatim piatu dan masyarakat ekonomi kurang mampu.

Sumbangan tersebut diberikan dalam bentuk alat-alat sekolah seperti buku tulis, pensil, pulpen, tas serta berbagai kebutuhan sekolah. Sebagian hasil penjualan karya seni tersebut akan dibelikan bahan-bahan baku kerajinan tangan berupa cat, lem, kuas, pewarna serta alat lainnya, sehingga sumbangan tersebut akan terus berkelanjutan.

Muhamad Thoyib, narasumber pelatihan aquascape memperlihatkan tahapan pembuatan media kepada para peserta.
[Foto: Henk Widi]
Sebagai seorang Aquascaper (orang yang hobi melakukan kegiatan aquascaping), Febrial menyebut kegiatan tersebut menjadi sebuah aktivitas pengenalan aquascaping, mengingat wilayah Lampung Selatan kaya akan wilayah perairan air tawar dan laut.

“Potensi yang sangat besar sebagai sebuah hobi yang tentunya akan menghasilkan nilai ekonomis bagi pedagang akuarium, nelayan serta pemanfaatan kekayaan alam sekaligus mengajak masyarakat mencintai alam”, beber Febrial.

Aktivitas berkebun di bawah air tersebut diakuinya berbeda dengan akuarium yang dominan memelihara ikan, karena pada aquascape ikan justru menjadi pelengkap. Sementara beberapa gaya yang diikuti oleh para aquascaper Lampung Selatan saat ini masih menginduk pada beberapa aliran di dunia.

Aliran atau style dalam pembuatan aquascape yang diikuti di antaranya jenis Dutch style dengan pemandangan bawah air menyerupai tanaman di atas tanah menggunakan beragam jenis tanaman dikenalkan pada 1930-an. Japanese style yang diperkenalkan oleh Takashi Amano pada awal 1980-an dengan mengadopsi pemandangan alam dalam bentuk miniatur dengan dikenal sebagai nature style. Selain itu, gaya Iwagumi style berasal dari formasi batu yang disusun dengan tanaman sehingga terlihat unik.

Aliran lain yang ditiru selain gaya Belanda dan Jepang dikenal dengan Jungle style yang bermakna seperti di belantara dengan tanaman yang tidak terurus dan dicukur. Ruang terbuka yang sedikit diberikan, agar tanaman tumbuh seperti suasana asli di alam bebas menyerupai belantara.

Gaya Biotopes dengan meniru persis seperti sebuah habitat air tertentu pada suatu tempat dan tanaman serta ikan tidak harus ada dan menyesuaikan dengan habitat asli yang ditiru. Gaya biotopes ini diakui Febrial kerap dilakukan penghobi aquascape dengan membawa peralatan dan mendatangi sebuah kawasan dan meniru habitat aslinya.

“Inilah keunikan seni aquascape, sehingga selain bisa dilakukan di ruangan bisa dilakukan di luar ruangan selayaknya melukis dalam kanvas dengan alam asli sebagai model yang akan digambar atau diterapkan dalam pembuatan aquascape”, terang Febrial.

Style lain dalam pembuatan aquascape di antaranya Paludariums, dengan menggabungkan air dan tanah di lingkungan yang sama seperti habitat asli di antaranya hutan hujan, sungai, rawa atau pantai. Selain itu, aquascape jenis ini kerap dipadukan dengan hewan amfibi atau hewan air dangkal.

Gaya lain yang cocok dikembangkan di Lampung Selatan dengan lokasi yang dekat dengan pantai di antaranya Saltwater reefs dengan dominasi biota laut sebagai struktur utama. Ciri khasnya, terang Febrial, dengan pemilihan batu karang warna-warni menggunakan terumbu karang. Selain itu penggunaan ganggang serta biota laut serta penggunaan penyinaran buatan akan semakin menarik bagi aquascape yang dibuat.

Hobi yang terbilang unik namun membutuhkan biaya besar namun sebagian bahan bisa diperoleh di alam bebas tersebut, diakui narasumber pelatihan aquascape yang juga Aquascaper, Muhamad Thoyib (34), warga Kelurahan Way Lubuk, Kalianda. Ia mengaku peralatan yang masih susah diperoleh membuat bahan dasar aquarium dengan berbagai ukuran mulai dari 40 cm x 60 cm hingga yang besar dibeli dengan harga mulai Rp150.000 hingga Rp5 juta dengan ukuran besar.

Sementara untuk aquascape yang setengah jadi dijual dari kisaran harga Rp500.000 hingga Rp5 juta, sedangkan yang sudah jadi bisa berharga puluhan juta. “Harganya bervariasi, untuk aquarium kacanya belum termasuk peralatan lain dan proses pembuatan aquascape juga butuh tahapan-tahapan butuh waktu lama tidak sekali jadi, sehingga butuh kesabaran”, terang pengurus komunitas Kalianda Aquascape tersebut.

Sebagai anggota komunitas yang sudah beberapa tahun menekuni hobi tersebut, ia  berharap hobi positif tersebut bisa menjadi sebuah kegiatan bermanfaat dan memperkenalkan masyarakat dalam mencintai habitat atau alam tempat tinggal tumbuhan serta binatang tertentu.

Keharmonisan manusia dengan alam dan lingkungan sekaligus menjadi filosofi aquascape yang dalam pelatihan pertama diikuti oleh puluhan peserta tersebut.

Para peserta diakui Thoyib sudah menyiapkan tank kaca dengan berbagai ukuran. Selain itu, berbagai peralatan yang sudah disiapkan di antaranya lampu, chiler (kipas pendingin), filter canister, pinset, gunting, sistem pemupukan, moss atau rumput yang sudah dibudidayakan serta peralatan lain dengan fungsi berbeda.

Arif (18), salah satu peserta pelatihan mengaku baru pertama kali sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut, karena sebagai salah satu siswa SMK jurusan kelistrikan proses belajar aquascape, karena dengan belajar aquascape dirinya bisa belajar hal-hal positif.

“Saya memang sudah memiliki akuarium di rumah, namun belum pernah belajar aquascape, sehingga tertarik mengikuti pelatihan secara gratis oleh rumah akar raja baca”, ungkap Arif.

Ia mengaku akan menekuni pembuatan aquascape dan berniat mengembangkan seni tersebut sebagai aktivitas yang positif sebagai pilihan hobi aquarium yang sudah ditekuninya sejak lama. Ia juga menyiapkan dua tank sebagai bahan untuk pembuatan aquascape yang tengah dipelajarinya bersama rekan-rekannya. Selain peserta pelatihan dari wilayah Lampung Selatan peserta dari Kabupaten Lampung Timur juga mengikuti pelatihan tersebut.

Lihat juga...