Warga Pesisir Timur Lampung Mulai Kekurangan Air
LAMPUNG — Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya, mengakibatkan pasokan air bersih bagi masyarakat berkurang, khususnya bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir Pantai Timur Lampung.
Samran (56), warga Dusun Keramat, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, menyebut, kesulitan air bersih sudah terjadi selama sebulan terakhir, sehingga sejumlah tandon atau tampungan air mulai mengering. Sebagian warga bahkan mulai membeli air bersih dari penjual air menggunakan galon serta tangki air dan ditampung di penampungan setiap rumah.
Sebagian warga yang sebelumnya sempat mengandalkan air sumur dangkal, kini juga mulai beralih menggunakan air dari sumur bor dan sumur pompa, yang dibangun atas bantuan dari Palang Merah Indonesia dan Kementerian Kelautan. Kekeringan saat musim kemarau bahkan berimbas mulai keringnya saluran-saluran air dari mata air mengalir ke kawasan perkampungan nelayan tersebut.
“Sebagian warga menyediakan bak-bak penampungan menggunakan semen serta tandon air. Namun, pada saat musim kemarau ini kami hanya mengandalkan dari sumur bor yang dijatah,” terang Samran, Rabu (6/9/2017).
Samran yang berprofesi sebagai nelayan tersebut juga mengatakan, warga setempat bahkan telah mendapat bantuan Program Pengelolaan Lingkungan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (PLBPM) APBN 2006, di antaranya berupa bantuan kamar mandi dan water closset yang dipergunakan untuk masyarakat. Meski demikian, bantuan tersebut hingga kini tidak difungsikan akibat kekurangan air yang melanda wilayah tersebut, sehingga masyarakat masih mengandalkan bantuan Palang Merah Indonesia dan Danish Red Cross pada 2008.
Ia menyebut, ada empat tandon berkapasitas 3.100 liter dan dialirkan ke perumahan warga dengan sistem iuran bulanan sebesar Rp40 ribu, untuk proses pemeliharaan instalasi air bersih di wilayah tersebut. Saat musim penghujan, kebutuhan air bersih bersumber dari sumur bor dan disalurkan ke tendon-tandon air dialirkan tanpa mengenal waktu. Namun saat musim kemarau, air bersih hanya dialirkan tiga kali dalam sehari saat pagi, siang dan sore hari.
Air yang mengalir pada jam-jam tertentu tersebut membuat sebagian warga termasuk Samran, memanfaatkan air bersih dari sumur pompa yang dimiliki oleh salah satu pengusaha tambak. “Saya memilih mengambil air bersih dengan menggunakan jerigen dari sumur pompa, lalu saya angkut ke rumah, karena saya tidak mampu membayar iuran bulanan,” terang Samran.
Sementara, Samran tak perlu membayar untuk mendapatkan air bersih dari sumur pompa milik salah satu pengusaha tambak, meski dirinya harus berjalan kaki sejauh 300 meter membawa air bersih dari sumur pompa ke rumahnya. Air bersih yang ditampung dengan galon dan bak sebagian dipergunakan untuk mandi dan mencuci serta memasak, karena air yang cukup bersih dibandingkan air sumur yang payau di wilayah tersebut.
Kekurangan air selama musim kemarau juga dialami Anton, warga Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, yang tinggal di dekat Selat Sunda. Ia menyebut, meski berlangganan air dari perusahaan daerah air minum, dalam sebulan terakhir kerap air tidak mengalir. Sistem penggiliran air bersih oleh PDAM Tirtajasa Bakauheni diakuinya kerap mengalir pada jam-jam tertentu saja, sehingga dirinya kerap menyiapkan stok air bersih dengan cara membeli air bersih dari tangki air.
Menurut Anton, selama musim kemarau ini pengeluaran untuk kebutuhan air bersih cukup meningkat, karena air bersih harus dibeli dari penjual air menggunakan tangki dengan harga Rp75 ribu untuk 1.000 liternya. Ia berharap, musim kemarau segera berakhir, karena selain warga pesisir mulai kesulitan air bersih, biaya kebutuhan hidup semakin bertambah dengan pengeluaran untuk membeli air.