Vendel Siluet Kediri Laris Manis
KEDIRI — Rifki Alvian Syafi’i (25 tahun) dan Bahruddin Salam (26 tahun) pagi ini terlihat tengah sibuk dengan pesanan vendel siluet berbahan dasar kayu palet bekas industri. Rifki dan Rudin sapaan akrabnya kompak berbagi tugas, ada yang bertugas membuat konsep dan produksi dan ada pula yang bertugas bagian pemasaran.
Keduanya memulai usaha ini pada 2015 lalu, bahkan sempat membuka bengkel di Surabaya. Karena masa kontrak bengkelnya habis, akhirnya Rifki dan Rudin bersiap membuka bengkel baru di Kediri.
“Disini kami berkreasi dengan bahan recycle kayu palet, kebetulan saat itu banyak agenda wisuda. Kami membuat contoh vendel siluet wisudawan, tak disangka hasil karya kami diminati,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (26/9/2017).
Keduanya membuat vendel siluet dari bahan kayu bekas yang dibentuk sesuai pola dan diwarnai dengan cat. Untuk vendel dengan ukuran 18-20 cm dengan lebar 14 cm dijual dengan harga Rp90 ribu. Selain itu, Rifki yang bertugas produksi juga bisa membuat kado keluarga, kotak seserahan, kotak cincin, kotak pensil dan mini furniture dan dekorasi rumah lainnya.
“Alat yang digunakan sederhana mulai dari gergaji table, bor, grinda dan alat ukur, selebihnya imajinasi,” cakapnya.
Alumni ITS Jurusan Planologi ini memanfaatkan kayu palet bekas jenis jati londo dan pinus sebagai bahan baku. Untuk membuat siluet juga dibutuhkan foto dari samping. Setelah itu kayu dipotong sesuai pola.
“Dalam dua hari, saya bisa menyelesaikan enam vendel sekaligus,” tuturnya.
Dari usaha sampingan ini, Rifki dan Rudin dalam sebulan mampu meraih omzet Rp7 juta. Namun usaha ini sebenarnya juga memiliki kendala, seperti kurangnya tenaga produksi dan juga bahan baku yang sulit ditemui di Kediri.
“Kami berinisiatif tidak mengambil pesanan baru jika pesanan sebelumnya belum selesai, kami juga masih terus mencari bahan baku yang pas,” tandasnya.
Rudin yang bertugas bagian pemasaran menambahkan hasil karya keduanya sering dikirim ke luar kota mulai dari Malang, Mojokerto, Sidoarjo, dan bahkan ke Samarinda.
“Hasil karya kami dipasarkan melalui media sosial Instagram ‘folkkraft’,”ujarnya.
Ia berharap meski hanya usaha sampingan tapi bisa membawa dampak positif bagi masyarakat terutama lingkungan. Karena bagi mereka, hasil karya bisa dibuat dari bahan bekas asal dipadukan dengan kreativitas.
“Semoga Folkkraft bisa dikenal oleh masyarakat luas,” pungkasnya.
