Gunung Agung dalam Fase Kritis
KARANGASEM — Sejak ditetapkannya level IV (Awas) pada 22 September lalu, Aktivitas vulkanik di Gunung Agung makin terus mengalami peningkatan. Bahkan saat ini kondisinya semakin kritis.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, saat ini pergerakan magma ke permukaan juga makin meningkat yang mengindikasikan magma terus bergerak ke permukaan. Dia menyebutkan hal ini disebabkan meningkatnya frekuensi gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik lokal yang terjadi.
“Berdasarkan laporan dari pantauan Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang, jumlah gempa vulkanik dalam 564 kali, gempa vulkanik dangkal 547 kali dan gempa tektonik lokal 89 kali pada Senin (25/9/2017). Jumlah kejadin gempa ini lebih besar daripada sebelumnya,” ujar Sutopo.
Sutopo mengatakan, meski sudah dinyatakan status Awas sejak lima empat hari yang lalu, bukan jaminan akan pasti meletus. Tergantung pada kekuatan dorongan magma. Artinya Jika kekuatan dorongan besar dan mampu menjebol sumbat lava maka akan terjadi letusan.
“Peluang terjadi letusan cukup besar. Namun tidak dapat dipastikam kapan meletus. Sampai saat ini Gunung Agung belum meletus,” imbuh Sutopo.
Oleh sebab itu pihaknya menghimbau masyarakat yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) harus dikosongkan.
“Radius berbahaya tetap yaitu di radius 9 km dan tambahan 12 km di sektor utara-timur laut dan 12 km di sektor tenggara-selatan-baratdaya. Zona tersebut hatus dikosongkan,” ungkap Sutopo.
Sementara itu, gelombang pengungsi terus bertambah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatar Jumlah pengungsi hingga Selasa pagi (26/9) tercatat sebanyak 57.428 jiwa di 357 titik yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali.