Unik, di Bengkulu Ada Ojek Khusus Sawah
BENGKULU – Petani di Lubuk Pinang, Muko-muko, Provinsi Bengkulu, ternyata memiliki cara yang jarang dilakukan oleh petani lainnya dalam hal memudahkan untuk mengangkut hasil panennya ke rumah.
Seperti yang dikatakan oleh petani di Lubuk Pinang, Aldi. Menurutnya, petani setempat menggunakan jasa motor ojek sawah untuk mengangkut padi dari sawah hingga sampai ke rumah. Sekilas, jika dipikirkan sebuah sepeda motor masuk sawah memang terbayangkan agak kurang lazim. Karena pada biasanya, motor roda dua hanya melalui jalan-jalan yang struktur tanahnya keras, seperti aspal ataupun beton.
“Saya memang bukan penduduk asli Lubuk Pinang, hanya saja saya datang ke Muko-muko ini sebagai pekerja memanen padi. Nah, ketika saya bersama pekerja lain memanen padinya, yang biasanya diangkut oleh pekerja hingga sampai ke pinggir jalan, sekarang malah lain, malah motor ojek yang langsung mendarat di sawah. Bagi saya, ini sangat unik dan menarik,” katanya, ketika dihubungi CendanaNews dari Padang, Senin (25/9/2017).
Ia menyebut, uniknya motor yang digunakan para ojek sawah itu bukanlah motor trail yang memang jenis motornya cocok di tanah berlumpur. Tetapi, motor ‘bebek’ biasa yang telah dimodifikasi khusus menghadang lumpur di dalam sawah.
“Kalau soal bagaimana modifikasinya saya kurang tahu. Tapi, ojek sawah ini memang sebuah upaya yang bagus, untuk memudahkan petani mengangkut hasil panennya hingga sampai ke pinggir jalan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan menggunakan ojek sawah itu, upah untuk mengangkut satu karung padi sampai ke rumah (bila rumah dekat dari lokasi) Rp10.000. Bila dibandingkan dengan diangkut oleh pekerja atau tenaga manusia, secara upah memang agak tinggi, yakni Rp12.000 per karung tergantung jarak yang ditempuh. Ojek sawah, selain murah, waktu yang digunakan untuk mengangkut pun lebih cepat.
Pria asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, itu mengaku, kondisi yang seperti tersebut baru ditemuinya di Lubuk Pinang, Muko-muko, Bengkulu. Ia melihat, mungkin salah satu alasan adanya ojek sawah di Lubuk Pinang, karena kebanyakan kondisi sawah di sana struktur tanahnya agak kering, dan tidak terlalu banyak lumpur.
Sementara itu, salah seorang ojek sawah di Lubuk Pinang, Marwan menjelaskan, sudah cukup lama dirinya menjadi ojek sawah. Dengan upah Rp10.000 per karung, Marwan bisa membawa dua karung padi untuk satu motor.
“Awalnya kita para petani di sini berpikir, bagaimana supaya ada transportasi yang memadai untuk mengangkut padi dari sawah hingga sampai ke rumah atau ke pinggiran jalan. Nah, terpikirlah untuk memodifikasi motor bebek, menjadi motor yang handal saat digunakan di sawah,” ungkapnya.
Menurutnya, sebelum adanya ojek sawah, seringkali proses mengangkut padi dari sawah hingga sampai malam. Seperti halnya jika isi sawahnya berjumlah 50 karung padi, sementara yang mengangkut 5 orang, bisa-bisa waktu yang dibutuhkan sampai malam.
“Kenapa sampai malam, memanen dan hingga mengipas padi bisa sampai sore atau bahkan menjelang petang. Lalu, mengisi ke dalam karung, barulah bisa diangkat. Kondisi yang demikian bisa menghabiskan waktu sampai malam. Tapi, kalau dengan motor ojek, waktu lebih cepat, dan tidak akan sampai malam, apalagi motor ojek yang dikerahkan sebanyak 5 unit,” ujarnya.
Marwan menilai, ojek sawah menjadi inovasi petani untuk mengangkut padinya dari sawah, dengan waktu yang lebih cepat, sehingga bisa meminimalisir basahnya padi akibat sering turunnya hujan di waktu sore.