Ternak Alasan Penduduk Belum Mengungsi dari Gunung Agung

BULELENG – Sejumlah warga di Desa Tianyar, lereng Gunung Agung yang masuk daerah rawan bencana enggan mengungsi. Keberadaan ternak piaraannya berupa sapi dan babi tidak ada yang merawat dan mengawasinya menjadi alasan untuk tetap tinggal.

Penduduk tetap bertahan meskipun sebagian besar warga desa di lereng gunung itu telah berbondong-bondong mengungsi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PWMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM meningkatkan status Gunung Agung.

Gunung yang memiliki ketinggian 3.143 meter dan berada di Kabupaten Karangasem, Bali, tersebut saat ini telah dinaikan statusnya dari Level III (Siaga) menjadi Level IV atau Awas sejak Jumat (22/9/2017) malam.

Jero Mangku Puseh, pemimpin ritual agama Hindu di Desa Tianyar menyebut, sebagian besar warganya sudah mengungsi ke tempat aman ke posko pengungsian Desa Les dan tempat penampungan lainnya di Kabupaten Buleleng. Namun Ia dan bersama puluhan warga lainnya memilih tetap bertahan.

“Takut sapi ternak piaraannya yang menjadi sumber kehidupan keluarga dicuri orang,” jelasnya.

Begitu pula, aktivitas galian C di Desa Tianyar yang berlokasi di sebelah utara Gunung Agung hingga Minggu (24/9) masih berjalan seperti biasa. Sejumlah kendaraan berat berisi pasir melintas di sepanjang jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Karangasem dengan Kabupaten Buleleng.

Sementara itu pengungsi terus mengalir hingga kini mencapai 2.745 kepala keluarga (KK) atau 15.124 jiwa trsebar pada 126 titik tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Pulau Dewata.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah. Hal tersebut mempertimbangkan, Pemkab Karangasem memperkirakan warga yang bermukim di lereng Gunung Agung dalam radius 6 kilometer sebanyak 15.000 jiwa dan radius 12 kilometer sekitar 100.000 orang.

Komandan Kodim 1623 Karangasem Letkol Inf. Fierman Sjafierial Agustus bersama tim gabungan lainnya telah meningkatkan penyisiran di daerah rawan bencana untuk mengevakuasi warga yang masih bertahan di beberapa desa sekitar Gunung Agung.

Dalam Rapat Koordinasi Darurat Gunung Agung, dia meminta warga lereng Gunung Agung dalam radius 12 kilometer untuk mematuhi instruksi petugas sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan terburuk, misalnya terjadi erupsi Gunung Agung.

Fierman yang juga Komandan Satuan Tugas Siaga Darurat Gunung Agung itu mengklaim evakuasi hampir 100 persen dilakukan di kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan zona merah dan KRB II yang merupakan zona merah muda.

Namun, tidak jarang beberapa warga, terutama yang memiliki ternak, kembali ke desa untuk memberi makan ternak yang tidak ikut diungsikan. “Berkali-kali mengimbau warga untuk turun dari lereng gunung karena berbahaya mencermati status awas Gunung Agung sejak Jumat (20/9/2017),” jelasnya.

Terpisah Wayan Pasek (45), warga Banjar Temukus, Desa Besakih, Kabupaten Karangasem yang juga masuk dalam radius rawan bencana memilih menjual ternak sapinya secara murah seiring dengan meningkatnya aktivitas Gunung Agung. Sapi piaraanya dijual telah dijual pada hari Rabu (20/9/2017) dua hari sebelum Gunung Agung ditingkatkan statusnya menjadi Awas atau Level IV.

Sapi piaraannya dijual di Pasar Beringkit, Kabupaten Badung, seharga Rp9 juta per ekor. Sementara biasanya sapi bisa dijual hingga mencapai Rp12 juta. Rendahnya harga tersebut dipengaruhi oleh membeludaknya jumlah sapi kiriman ke Pasar Beringkit karena peningkatan status Gunung Agung.

Banjar Temukus, Desa Besakih, yang terdiri atas 200 kepala keluarga itu sebagian besar merupakan petani pemelihara sapi dan perkebunan bunga gumitir untuk memenuhi kebutuhan ritual yang digelar umat Hindu. Wayan Pasek mengaku ikhlas tidak mempermasalahkan sapi peliharaannya dijual murah daripada nanti ketika terjadi bencana semuanya akan hilang. Hal itu juga dilakukan beberapa tetangganya.

Desa Besakih, termasuk pura terbesar umat Hindu di Bali itu berada dalam radius 6 km dari Gunung Agung yang kini sudah seluruhnya mengungsi ke 126 titik di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho yang berada di Bali sejak awal September 2017, pada saat aktivitas Gunung Agung mulai meningkat, menilai rasa solidaritas sesama masyarakat Bali sangat tinggi yang ditunjukkan dengan banyak warga yang menawarkan rumah dan bangunannya sebagai tempat pengungsian.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengatakan bahwa pemkab setempat mengupayakan membeli ribuan hewan ternak milik para pengungsi untuk mencegah agar tidak dijual dengan harga murah. Masyarakat yang tinggal di daerah pengungsian panik dan khawatir terhdap ternak piaraannya. Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan Polri serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan evakuasi ternak sapi secara bertahap sejak Sabtu (23/9/2017). (Ant)a

Lihat juga...