Subiakto: Sektor Pangan Lebih Berbahaya dari Nuklir

YOGYAKARTA — Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya, mengatakan, sektor pangan menjadi strategis bukan hanya karena sebagai kebutuhan dasar manusia, melainkan juga merupakan sumber energi baru terbarukan. Negara yang menguasai pangan, akan lebih berbahaya ketimbang negara yang hanya menguasai bom nuklir.

“Namun, sayangnya, hingga kini sebagian dari bahan pokok kita masih impor. Bahkan, nilai tukar petani (NTP) kita saat ini sangat rendah, hanya 100, 65 poin. Itu artinya petani tidak mendapatkan apa-apa. Hampir semua habis untuk biaya produksi saja. Artinya lagi, petani kita saat ini tidak sejahtera,” tegas Subiakto, saat memberikan sambutan pembukaan Pelatihan Sistem Pertanian Organik di Balai Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Rabu (6/9/2017).

Menurut Subiakto, jika kondisi tersebut terus berlangsung, maka ketahanan atau swasembada pangan tidak akan terwujud. Hal demikian dinilainya jauh dari kondisi petani di era Orde Baru, yang mampu mencapai NTP di atas 100. “Saat ini, kemiskinan bahkan bertambah secara kuantitas dan kualitas”, katanya.

Karena itu, lanjut Subiakto, acara yang tampaknya sederhana, yaitu pelatihan sistem pertanian organik, menjadi sangat penting dan strategis. Pasalnya, acara tersebut merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan petani secara mandiri dan bermartabat.

Subiakto menekankan pentingnya faktor kemandirian dan bermartabat, karena sejahtera itu bisa saja tidak mandiri dan bermartabat karena hanya dibantu oleh pihak lain.

“Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para petani bisa meningkatkan produktivitas pertaniannya. Tidak hanya meningkat secara kuantitas, namun juga secara kualitas”, tandasnya.

Subiakto menekankan lagi, kunci peningkatan produktivitas itu adalah bekerja keras dan cerdas. Artinya, petani harus menguasai inovasi-inonasi baru dan teknologi. Tanpa itu, (inovasi dan teknologi) ketahanan pangan dan kesejahteraan petani mustahil bisa dicapai.

“Karena itulah, pelatihan ini menjadi penting dan strategis. Bahwa, sebuah negara akan selesai jika tidak menguasai pangan. Sekarang ini perang adalah untuk menguasai sumber-sumber pangan yang juga bisa menjadi sumber energi baru terbarukan”, tegasnya.

Subiakto berharap, para petani bisa memanfaatkan dengan baik pelatihan tersebut, dan mengubah pola pikir serta menularkan kepada petani lainnya. Ia meyakini, penguasaan inovasi dan teknologi pertanian akan berdampak besar bagi kemajuan negara.

“Apalagi, saat ini kita menghadapi bonus demografi. Ledakan penduduk yang didominasi oleh generasi usia produktif. Ini akan menjadi asset besar. Namun, jika tidak mampu menyiapkan generasi usia produktif agar mampu bekerja, maka hanya akan menjadi beban negara dan ini sangat berbahaya. Dan, pertanian ini bisa menjadi jawaban kebutuhan pekerjaan yang menjanjikan, selama dikelola dengan baik”, katanya.

Pelatihan Sistem Pertanian Organik di Balai Desa Argomulyo, diikuti oleh sekitar 30 petani dari berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pelatihan tersebut merupakan hasil kerja sama Yayasan Damandiri dan Waringin Agritech.

Hadir dalam pembukaan pelatihan tersebut, Sekretaris Yayasan Damandiri, Firdaus, Pembina Tim Demplot Waringin Agritech yang juga Wakil Sekretaris Yayasan Damandiri, Retno Widowati Harjojudanto, Tim Demplot Yayasan Damandiri, Dhany HMS, dan sejumlah pengurus lainnya.

Kepala Desa Argomulyo, Bambang Sarwono, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia berharap, di tengah ketergantungan pupuk kimia saat ini, para peserta bisa memanfaatkan pelatihan tersebut, dan menularkannya kepada petani lainnya.

Lihat juga...