Produksi Pisang di Lebak, Surplus

LEBAK – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna, mengatakan pihaknya mendorong petani terus meningkatkan kualitas sehingga komoditas pisang Lebak menembus pasar dunia.

Produksi pisang di Kabupaten Lebak surplus sehingga menyumbang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Perguliran uang hasil penjualan pisang mencapai miliaran rupiah per hari dengan produksi ratusan ton per hari.

Saat ini, harga pisang di tingkat penampung berkisar Rp70 ribu-Rp250 ribu per tandan. “Kami melihat komoditas pisang itu menjadikan andalan tetap pendapatan petani dibandingkan pertanian lainnya,” katanya, Minggu (17/9/2017).

Ia menyebutkan, selama ini pisang Kabupaten Lebak memiliki kualitas yang baik, karena petani mengembangkan budi daya tanaman tersebut di lahan darat atau ladang dengan didukung kesuburan tanah cukup baik.

Produksi pisang yang dikembangkan itu, jenis pisang mulih, nangka, galek, rajah buluh, raja sereh, emas, kepok, dan ketan. Pemerintah daerah terus mengembangkan tanaman pisang melalui berbagai program bantuan guna meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

“Kami setia tahun mengalokasikan program bantuan tanaman pisang untuk meningkatkan kualitas juga produktivitas,” katanya.

Jakaria, pengepul pisang di Rangkasbitung menyatakan kewalahan melayani permintaan dari luar daerah. Kualitas pisang Kabupaten Lebak rasanya manis, buahnya besar, beraroma juga bertahan lama sehingga memiliki keunggulan dibandingkan pisang dari Lampung. Harga jual pun komoditas pisang Kabupaten Lebak cukup bagus dipasaran.

Selama ini, dirinya merasa kewalahan melayani permintaan dari wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Sebab, produksi pisang mengalami penurunan akibat dampak musim kemarau. Saat ini, dirinya menjual pisang ke luar daerah antara 10-15 ton per hari,padahal normalnya bisa mencapai 30 ton per hari.

“Kami menilai pisang Lebak cukup baik karena permintaan pasar cukup meningkat,” ujarnya.

Menurut dia, dirinya mendatangkan pisang itu dari petani wilayah Lebak bagian tengah, termasuk petani Badui. Mereka petani Badui mengembangkan pisang di ladang-ladang yang lokasinya perbukitan dengan menggunakan pupuk organik.

Selama ini, komoditas pisang di Kabupaten Lebak menjadikan andalan ekonomi keluarga,karena setiap hari ratusan ton dipasok ke luar daerah. Bahkan, pisang di daerah itu dijadikan bahan baku kerajinan makanan olahan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Selain itu juga dipasok ke sejumlah perusahaan di Tangerang dan Jakarta sebagai bahan campuran aneka makanan.

“Kami minta petani terus meningkatkan kualitas pisang sehingga bisa ekspor ke luar negeri,” kata Jakaria.

Santa (50) seorang petani Badui mengatakan bahwa dirinya terbantu pendapatan ekonomi keluarganya dari hasil penjualan pisang. Saat ini, petani Badui terus mengembangkan berbagai jenis pisang karena permintaan pasar cenderung meningkat.

Pengembangan pisang Badui itu di ladang huma dengan menyewa lahan milik Perum Perhutani maupun lahan milik masyarakat luar Badui. “Kami setiap pekan menjual pisang bisa menghasilkan pendapatan Rp1,5 juta,” katanya. (Ant)

Lihat juga...