Petani Pisang di Lamsel Dihantui Hama Layu

LAMPUNG — Sejumlah petani pembudidaya tanaman pisang di Kecamatan Ketapang dan Penengahan, masih dihantui hama layu fusarium yang mengakibatkan tanaman pisang tiba-tiba layu, membusuk dan mati, sehingga sebagian petani terpaksa melakukan pemusnahan tanaman pisang dengan membakar serta memusnahkan tanaman pisang terserang fusarium.

Hamdan menebang tanaman pisang terimbas penyakit layu fusarium di lahan miliknya [Foto: Henk Widi]
Hal demikian seperti yang dialami Hamdan, petani di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang. Ia terpaksa membakar tanaman pisangnya karena terkena layu fusarium, sehingga buah pisang rusak dan tanaman mengering dan layu.

Hamdan menyebut, penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysphorum yang menyerang tanaman pisang yang sudah terinfeksi, khususnya pada varietas pisang jenis ambon, kepok, raja nangka, barlin serta pisang kepok manado.

Sebagai salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis pada saat harga membaik, pisang yang ditanamnya memiliki harga sekitar Rp8 ribu hingga Rp20 ribu per tandan, meski saat penyakit layu fusarium berimbas petani pisang merugi jutaan rupiah.

“Salah satu kendala penanaman pisang memang dengan adanya serangan penyakit layu fusarium yang berimbas matinya tanaman pisang, bahkan jika masih sempat berbuah tidak sempurna hingga harus dimusnahkan,” terang Hamdan, Senin (25/9/2017).

Ia menyebut, penyakit jamur fusarium berasal dari tumbuhan di sekitar tanaman pisang berupa gulma jenis bayam-bayaman dan kondisi lahan yang kurang bersih, yang ditandai dengan serangan pada bagian jantung pisang yang semula tumbuh normal lalu mengerdil dan menjalar ke semua bagian tanaman termasuk daun dan batang.

Pada tahap serangan awal, kata Hamdan, hanya ada beberapa tanaman yang terserang. Namun, akhirnya ratusan batang tanaman pisang miliknya terimbas penyakit layu fusarium. Penyakit layu fusarium berdasarkan petunjuk dari penyuluh pertanian yang diperolehnya, tidak bisa diobati bahkan harus dimusnahkan dengan cara dibakar, untuk menghindari penyebaran penyakit tersebut pada tanaman lain.

Namun, ia juga sudah menyiapkan varietas tanaman pisang yang tahan terhadap hama penyakit, di antaranya jenis pisang tanduk, pisang muli, pisang janten, pisang kepok siam serta beberapa jenis pisang yang tahan penyakit layu fusarium lainnya.

“Saya sengaja memusnahkan terlebih dahulu, lalu akan saya selingi dengan tanaman lain agar penyakit yang ada hilang, baru selanjutnya menanam varietas yang tahan penyakit”, beber Hamdan.

Bambang, petani lain di Kecamatan Sragi juga terpaksa memusnahkan tanaman pisang terserang layu fusarium, untuk proses sanitasi lahan dengan pembakaran semua tanaman pisang serta gulma berupa rumput yang bisa mengundang penyakit layu fusarium.

“Sebetulnya saya bisa melakukan proses penyuntikan menggunakan minyak tanah, namun karena lebih praktis lebih baik saya bongkar tanaman dengan diselingi tanaman lain sebelum kembali ditanami pisang”, terang Bambang.

Ia juga mengaku, masih mempertahankan beberapa jenis varietas pisang yang tahan penyakit layu fusarium, sehingga kerugian akibat serangan penyakit bisa diminimalisir saat harga pisang mulai kembali membaik.

Selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan keripik dan gorengan bagi pasar lokal ia menyebut komoditas pisang di wilayah tersebut kerap dipasok ke sejumlah wilayah Jakarta dan Banten.

Pantauan Cendana News, puluhan hektare lahan perkebunan pisang oleh sebagian petani di Kecamatan Penengahan sebagian dibiarkan terlantar akibat hama layu fusarium. Sementara sebagian lainnya memilih memusnahkan dengan cara menebang dan membakarnya dalam api bersama proses pembakaran gulma rumput yang ada di lahan perkebunan pisang.

Lihat juga...