Minimnya Benih Berkualitas, Kendala Peningkatan Kentang Nasional

YOGYAKARTA – Untuk meningkatkan produksi kentang nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, tengah melakukan upaya pengembangan produksi benih berkualitas unggul. Pasalnya, ketersediaan benih berkualitas unggul yang terjangkau masih menjadi kendala tersendiri dalam upaya peningkatan produksi kentang nasional.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Prama Yufdi, menyebut produksi kentang nasional saat ini rata-rata mencapai 17 ton per hektar. Sementara pihaknya tengah mengembangkan benih kentang berkuaiitas unggul yang mampu memproduksi kentang dalam jumlah lebih besar mencapai 23-24 ton per hektar.

“Kita berupaya mengembangkan produksi benih kentang kualitas unggul. Karena kita masih kekurangan produksi benih berkualitas. Terlebih kentang merupakan sumber makanan alternatif. Kita harapkan dengan pembudidayaan dan peningkatan produksi kentang ini kita tidak tergantung pada beras,” katanya seusai membuka workshop Asian Food and Agriculture Cooperative (AFACI) on Food Crops yang diikuti 14 negara di Yogyakarta, Rabu (27/9/2017). 14 negara anggota AFACI tersebut di antaranya Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Indonesia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Filipina, Srilanka, Thailand, Vietnam, hingga Korea.

Dalam kegiatan AFACI on Food itu sendiri juga dibahas mengenai pengembangan sistem budidaya kentang secara massal, benih kentang menggunakan metode hidroponik seperti yang dikembangkan dalam proyek AFACI. Pengembangan sistem budidaya kentang ini diharapkan dapat mendukung stabilitas ketersediaan benih kentang di setiap negara peserta.

Lewat metode hidroponik, budidaya benih kentang dianggap lebih efektif. Bisa menghasilkan benih sebesar 1:25-75, atau lebih besar dibandingkan metode konvensional yang hanya menghasilkan perbandingan 1:10 bibit kentang.

“Bibit kentang terbagi menjadi dua jenis. Kentang untuk konsumsi dan untuk chips. Ini beda varietas. Namun sudah kita kembangkan. Dengan adanya saling tukar informasi, pengetahuan dan teknologi antarnegara peserta, lewat kegiatan ini, diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas maupun ketersediaan benih kentang berkuaiitas. Sehingga produksi kentang nasional juga akan meningkat,” katanya.

Tak hanya itu, proyek budidaya kentang ini juga bertujuan untuk meningkatkan stabilitas industri dan produksi kentang di kawasan Asia melalui dukungan teknologi terhadap produksi benih kentang yang sehat dan berkualitas. Selain kegiatan utama berupa penyediaan sistem produksi benih secara hidroponik, dalam pertemuan ini juga dilakukan identifikasi sistem budidaya kentang di setiap negara. Termasuk pengumpulan informasi terkait produksi benih kentang dan ketersediaannya di negara anggota AFACI dan penyusunan buku manual perbenihan kentang secara hidroponik.

Lihat juga...