Dusun Bandarrejo Sentra Produsen Gula Kelapa Yang Mulai Meredup
LAMPUNG — Usaha pembuatan gula merah atau gula kelapa di wilayah Dusun Bandarrejo, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas serta beberapa dusun lain di antaranya Dusun Dagri, Dusun Simpangplabuh menjadi mata pencaharian utama warga yang sehari hari berprofesi sebagai petani dan juga pembuat gula merah.
Menurut salah seorang produsen gula merah, Mesiati (50) sejak 1998 sekitar 30 warga bekerja sebagai pembuat gula merah dengan tanaman kelapa yang sebagian besar dimiliki oleh pemodal besar. Luas lahan 12 hektare dengan ribuan batang tanaman kelapa jenis hibdrida dan dikontrak oleh puluhan pembuat gula merah sistem tahunan.
Pada tahun tersebut sebanyak 100 batang dikontrak oleh dua orang dengan biaya kontrak Rp2 juta. Saat itu harga gula seharga Rp2000 dengan sistem patungan satu orang mendapat jatah sekitar 50 batang dengan rata rata per hari bisa memproduksi sekitar 30 kilogram dengan omzet mencapai Rp60 ribu per hari.
Seiring perkembangan zaman dengan semakin berkurangnya pohon kelapa hibrida untuk pembuatan gula kelapa. Menurunnya produksi air legen dari kelapa karena usia batang yang sudah tua dan perluasan perumahan penduduk sekaligus pembuatan perusahaan untuk peternakan membuat jumlah pohon kelapa menurun berimbas pada produsen gula merah.

“Jumlah pohon kelapa berkurang semenjak banyaknya perusahaan peternakan ayam menggunakan lahan perkebunan kelapa. Imbasnya banyak produsen gula merah yang terpaksa berhenti produksi sebagian justru beralih memilih menjadi karyawan di perusahaan peternakan ayam,” ungkap Mesiati salah satu produsen gula merah di Dusun Bandarrejo saat ditemui Cendana News tengah melakukan perebusan air legen menjadi bahan baku pembuatan gula merah, Selasa (5/9/2017)
Pada awal kejayaan produsen gula kelapa beberapa pengrajin gula merah bahkan memperoleh bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Perkebunan berupa alat pembuatan gula merah. Beberapa alat yang diberikan di antaranya berupa gayung, wajan, arit, bak untuk mencuci cetakan dan kerombong dari alumunium menghindari busa tumpah.

Bantuan tersebut menjadi perangsang industri kreatif rumahan yang memproduksi gula merah tersebut. Namun pada awal 2011 beberapa produsen memilih berhenti akibat berkurangnya bahan baku pohon kelapa dan tenaga kerja yang mulai berkurang akibat beralih ke pekerjaan lain.
Kini Mesiati menyebut pembuat gula merah bahkan bisa dihitung diantaranya Suwarto, Saleh, Jari, Samidi, Muhidin yang masih bertahan membuat gula merah dengan penjualan dilakukan hingga ke wilayah Cilegon dan Serang sebagian dijual ke pengepul.
Mesiati yang bertahan bersama suaminya Suwarto membuat gula merah dengan sistem kontrak kebun kelapa mempunyai 200 batang dengan biaya kontrak sebesar Rp4 juta. Setiap hari bisa memperoleh legen bahan baku pembuatan gula merah sebanyak 50 liter per hari dengan hasil gula merah bisa mencapai 25 kilogram yang dibuat dengan proses mengumpulkan air legen,perebusan hingga proses pencetakan dalam potongan bambu.
“Proses pencetakan membutuhkan waktu sekitar delapan jam hingga air legen mengental lalu dicetak dan gula akan diambil dua hari sekali untuk dikirim luar Pulau Sumatera,” ujar Sumiati.
Saat ini ia menyebut harga perkilogram gula merah sedang turun dengan harga Rp9 ribu per kilogram sementara sebelumnya sempat mencapai angka Rp10 ribu per kilogram dengan rata rata pengiriman perdua hari hingga 50 kilogram tergantung produktivitas tanaman kelapa. Produktivitas tanaman kelapa pada musim kemarau yang minim membuat hasil gula merahnya menurun sementara harga jual rendah.
“Harapan kami penjualan bisa meningkat namun karena harga jual menyesuaikan permintaan pengecer. Maka kami masih menjual dengan harga rendah dengan harapan pengecer masih mendapat keuntungan,” kata Mesiati.
Ibu Sarji salah satu produsen gula merah di dusun yang sama dan masih berproduksi menyebut beberapa produsen gula merah yang bertahan banyak didukung oleh para bos penampung gula merah.
Para bos tersebut siap menampung gula hasil buatan produsen gula merah dengan harga Rp10 ribu per kilogram sementara modal diberi pinjaman untuk proses mengontrak batang kelapa dan produksi.
Tanpa modal cukup sebagai usaha kecil yang mengandalkan modal dari bos, ia menyebut seperti pembuat gula merah lainnya dirinya dipastikan gulung tikar apalagi saat ini kontrak pohon kelapa sudah mencapai Rp4 juta untuk 200 batang sebagai bahan baku pembuatan gula merah.
“Sekarang di Dusun Bandarrejo sekitar belasan produsen gula merah yang masih bertahan karena sudah banyak yang gulung tikar meski dusun ini kami dikenal sebagai sentra pembuatan gula merah,” ungkap Ibu Sarji.
Berbeda dengan sistem kontrak tanaman kelapa untuk bahan baku,bersama sang suami Muhidin ibu Sarji mengungkapkan menggunakan sistem bagi hasil pemilik pohon kelapa mendapatkan satu kilogram gula merah dan jika diuangkan bisa rata rata Rp8 ribu perbatang.
Selain itu hasil produksi gula merah miliknya ditampung oleh bos pengepul gula. Sehingga dirinya tak perlu kuatir akan pemasaran gula merah yang diproduksinya sehingga tak perlu melakukan pemasaran langsung.
Sebagai sentra produsen pembuatan gula merah di Dusun Bandarrejo diakui ibu Sarji masih cukup terlihat di puluhan rumah warga berupa tungku terbuat dari tanah yang digunakan sebagai lokasi pembuatan gula merah.
Meski sebagian pohon kelapa ditebang untuk lokasi peternakan ayam sehingga pohon kelapa berkurang sebagian warga masih membuat gula merah dengan mengontrak pohon kelapa milik para pemilik pohon kelapa.