Industri Batu Bata Rumahan Penyangga Hidup Puluhan Warga Sukoharjo

SOLO — Kemarau panjang rupaya menjadi ladang berkah tersendiri bagi industri batu bata rumahan di Dusun Kuncen, Desa, Waru, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di samping lebih mudah membuat batu bata, musim kemarau panjang tahun ini juga diikuti banyaknya permintaan batu bata di pasaran. Hal ini tak lepas dari banyaknya pekerjaan proyek infrastruktur baik instansi pemerintah maupun perseorangan yang tengah berlangsung.

“Banyak permintaan batu bata, tapi yang membuat juga semakin banyak kalau musim kemarau seperti ini,” ucap Riyadi, salah satu pengrajin batu bata kepada Cendana News, Selasa (5/9/2017).

Pria 54 tahun itu mengaku, jika harga batu bata per seribu nya adalah Rp600.000. Harga ini menurut dia, masuk kategori standar jika dibanding harga sebelumnya. Kondisi itu tak lepas dari banyaknya stok batu bata di tingkat pengrajin. “Kalau pas tinggi bisa mencapai Rp700 ribu atau Rp750 ribu per seribu batu bata,” urai Riyadi.

Dalam sehari, Riyadi yang bekerja seorang diri, rata-rata mampu membuat 600 batu bata. Itupun jika kondisi bahan baku, seperti tanah liat dan rambut padi, sudah siap tersaji. Dalam sebulan, bapak 4 anak ini mampu membakar batu bata sebanyak 10 ribu bata.

“Ya, kadang bisa 15 ribu batu bata per bulannya. Tinggal dikalikan saja dengan Rp600 ribu per seribu nya. Untungnya lumayan untuk bisa menyambung hidup keluarga,” ungkap pria yang sudah 20 tahun lebih bekerja membuat batu bata tersebut.

Melalui kerajinan batu bata ini, dirinya sudah bisa menghidupi ke empat anak serta istrinya. Termasuk biaya pendidikan anak-anaknya. Warga RT 05, RW 03, Dusun Kuncen itu mengaku bisa mendapatkan keuntungan kotor hingga Rp4 juta per bulan.

“Itu tenaganya tidak dihitung. Untuk anak saya dua sudah lulus SMA. Tinggal dua yang belum, ini sudah SMP dan SMA,” lanjut Riyadi.

Pembuatan batu bata rumahan ini, imbuh dia, menjadi satu-satunya mata pencaharian keluarga. Di samping tidak memiliki sawah, Riyadi juga tidak memiliki pekerjaan lainnya. Bahkan untuk buruh bangunan atau lainnya, Riyadi memilih untuk usaha sendiri.

“Dari pada ikut orang lain, lebih baik usaha sendiri, meskipun kecil. Pekerjaan ini justru bisa di rumah terus,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan Danang, pengrajin batu bata lainnya. Melalui usaha batu bata rumahan miliknya, keuntungan yang didapatkan bisa menjadi penyangga hidup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan memiliki 2 pekerja, hampir setiap bulan mampu meraub untung sekitar Rp4 juta bersih.

“Keuntungan setelah dikurangi untuk membeli bahan baku, berupa tanah liat dan rambut padi serta upah tenaga,” tambah dia.

Untuk pembelian bahan baku, setiap bulannya ia harus mengeluarkan Rp180.000 untuk membeli tanah liat satu rit. Ditambah lagi biaya untuk rambut padi Rp600.000 per gerobaknya. “Bahan-bahan itu bisa menghasilkan 15 ribu-20 ribu batu bata,” jelasnya.

Industri batu bata rumahan inipun sudah berjalan 5 tahun terakhir. Dari pembuatan batu bata itu, dirinya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Kalau saya sebenarnya guru. Tapi penghasilan utama justru dari batu bata ini,” tandas pria yang menjadi guru Yayasan tersebut.

Di Dusun Kuncen tersebut, lebih dari 40 kepala keluarga (KK) yang mengandalkan hidupnya dari usaha batu bata rumahan. Bahkan, secara ekonomi, para pelaku industri batu bata rumahan sudah banyak yang sukses.

“Banyak yang sudah bisa membangun rumah bagus, punya kendaan roda empat juga banyak. Ekonomi keluarga bisa dikatakan meningkatlah,” imbuh Daliman selaku ketua RT setempat.

Ribuan-batu-bata-yang-siap-dipasarkan/Foto: Harun Alrosid.
Lihat juga...