Disperindag Tanjungpinang Khawatir Terjadi Kecurangan Perdagangan Gas
TANJUNGPINANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, merasa khawatir disparitas harga antara gas 3 kg dengan gas 5,5 yang terlalu jauh akan menimbulkan kecurangan.
“Potensi kecurangan itu ada, dapat terjadi, karena selisih harga yang terlalu tinggi. Gas 3 kg dijual dengan harga Rp15.000, sedangkan Rp5 kg dijual Rp70.000,” kata Kepala Disperindag Tanjungpinang, Juramadi Esram, di Tanjungpinang, Kamis.
Ia menjelaskan harga 1 kg gas pada tabung 3 kg hanya Rp5.000. Jika 5 kg gas yang bersumber dari tabung gas 3 kg dipindahkan ke dalam tabung 5,5 kg, maka modal orang yang melakukan kecurangan Rp27.500 sehingga keuntungan yang diperoleh sangat besar.
“Logikanya seperti itu. Ini sangat rawan jika tidak dicegah,” ujarnya.
Esram belum mengetahui apakah kelangkaan gas yang terjadi di Tanjungpinang disebabkan oleh penimbunan atau memang daya beli masyarakat meningkat sejak Idul Adha. Namun Pertamina sudah melakukan operasi pasar di dua pangkalan yakni di SPBU Batu 3 dan SPBU Batu 7.
“Kami masih berpikir positif bahwa kelangkaan gas terjadi disebabkan oleh kebutuhan yang meningkat,” katanya.
Ia mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap gas 3 kg sekitar 8.000 tabung per hari. Gas 3 kg tidak hanya dipergunakan oleh masyarakat yang tidak mampu, melainkan para pedagang.
Berdasarkan hasil survei Disperindag Tanjungpinang, kebutuhan gas pada tabung 3 kg untuk satu rumah tangga mencapai 9 kg gas, sedangkan untuk pedagang mencapai 5-6 tabung gas.
“Kami berharap kondisi gas di Tanjungpinang kembali normal, jangan sampai menimbulkan masalah,” ucapnya.
Esram juga menyinggung kinerja Pertamina yang belum transparan dalam mengambil kebijakan. Jika ada kebijakan baru dari Pertamina seharusnya disampaikan lebih awal kepada pemerintah daerah.
“Kalau berjalan normal, yang dapat nama itu Pertamina. Tetapi kalau ada kelangkaan atau permasalahan lain, yang disalahkan pemerintah daerah,” katanya. (Ant)