Damandiri Latih Petani Kuasai Sistem Pertanian Organik
YOGYAKARTA – Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya, menyebut minimnya minat generasi muda saat ini untuk terjun ke dunia pertanian, disebabkan usaha pertanian dianggap tidak menguntungkan.
Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi indikator tingkat kesejahteraan petani saat ini bahkan tercatat sangat rendah, yakni di angka 100, 65 poin, terpaut jauh bila dibandingkan pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Pak Harto yang mencapai angka 112 poin.
Menurut Subiakto, pada masa Pak Harto, dunia pertanian dibangun secara serius. Gerakan-gerakan masyarakat di sektor pertanian begitu luar biasa massif dilakukan. Setiap kebijakan yang diambil selalu menerapkan prinsip keberpihakan kepada petani. Hal itulah yang membuat petani menjadi lebih sejahtera, sehingga banyak masyarakat termasuk generasi muda terjun ke sektor pertanian.
“Tak hanya itu, satu hal yang juga dilakukan Pak Harto, ialah tidak sekedar membangun sektor pertanian saja. Namun, juga menjaga betul kestabilan ekonomi. Kalau sekarang kebutuhan pokok naik terus, sehingga pendapatan petani tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya, di sela acara Pelatihan Sistem Pertanian Organik bertajuk ‘Menyongsong Era Ketahanan Pangan dan Ekonom Rakyat’, di Balai Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Rabu (6/9/2017).
Lebih lanjut, dikatakan Subiakto, bonus demografi penduduk Indonesia dinilai sebagai aset bangsa yang luar biasa besar. Hampir 60 persen bonus demografi dari total jumlah penduduk Indonesia nanti adalah generasi usia produktif, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk di antaranya untuk sektor pertanian.
“Sebagai negara agraris, peluang kerja di sektor pertanian kita luar biasa. Pemuda harus diarahkan menjadi petani. Yakni, untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan mewujudkan ketahanan pangan. Sebab, rendahnya produktivitas petani inilah yang meyebabkan nilai tukar petani menjadi rendah, sehingga mamang harus ditingkatkan,” katanya.

Menurut Subiakto, kunci untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian adalah petani mau melakukan inovasi serta pembaruan teknologi. Baik itu dari sisi mutu/kualitas maupun kuantitas hasil produksi pertanian. “Generasi muda memegang peranan penting dalam melakukan pembaruan di sektor pertanian”, tegasnya.
Sementara itu, Tim Demplot Yayasan Damandiri, Dhany HMS, menyebut, kesulitan nomor satu dalam upaya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian termasuk mengikuti pelatihan penerapan inovasi teknologi terbaru, biasanya adalah penolakan. Banyak generasi muda lebih memilih menjadi pegawai di toko dibandingkan menjadi petani.
“Padahal, kalau mereka mau memilih menjadi petani atau pembuat pupuk, tentu mereka akan lebih mandiri. Mereka juga bisa mengubah dan mengembangkan lingkungan sekitarnya dari sisi ekonomi. Karena itu, kita terus berupaya mendorong hal itu. Salah satunya melalui kegiatan pelatihan sistem pertanian organik ini,” pungkasnya.