BBKSDA Madiun Kembali Lepasliarkan Elang Jawa
PONOROGO – Usai dilepasliarkan pada tiga bulan lalu, Elang Jawa yang diberi nama ‘Gogor’ ternyata ditemukan dan diamankan oleh warga Desa Kesugihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Kemudian warga menyerahkan Gogor ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Bidang KSDA wilayah 1 Madiun.
Kepala Bidang BBKSDA wilayah 1 Madiun, Hartojo menjelaskan, pelepasliaran satwa langka tidak semudah yang dibayangkan sekali dilepaskan, juga ada penyelamatan dan pengamatan intensif selama enam bulan.
“Pengawasan selain dilakukan oleh petugas, masyarakat sekitar juga harus ikut berpartisipasi aktif,” jelasnya di sela-sela pelepasliaran kembali Gogor, Rabu (27/9/2017).

Usai ditemukan dan dikembalikan warga, Gogor tidak bisa langsung dilepasliarkan kembali. Butuh waktu sekitar enam bulan karena berdasarkan pengamatan fisik, kondisi bulu-bulu primer pada sayap sedang proses rontok sehingga Gogor perlu direhabilitasi di kandang transit Seksi Konservasi wilayah 2 Bojonegoro.
“Proses pelepasliaran satwa tidak semudah yang dibayangkan,” cakapnya.
Pengendali ekosistem hutan BKSDA Jatim, Fajar Dwi menambahkan bahwa Gogor agar bisa kembali ke alam tidak semudah yang dibayangkan.
“Pasalnya Gogor ini korban pemeliharaan jadi butuh waktu untuk bisa kembali ke alam,” tuturnya.
Sebelumnya, Gogor yang termasuk jenis Elang Jawa yang identik dengan burung Garuda ini merupakan satwa langka hasil sitaan Polda Jawa Timur pada tanggal 3 Juli 2015. Kemudian setelah menjalani rehabilitasi selama 19 bulan, pada tanggal 15 Desember 2016 dilepasliarkan di Cagar Alam Gunung Picis.
Setelah dilepasliarkan selama tiga bulan, tepat tanggal 26 Maret 2017, Gogor ditemukan dan diamankan oleh masyarakat di Desa Kesugihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang berjarak 4 kilometer dari lokasi pelepasliaran.
Akhirnya usai direhabilitasi lagi selama enam bulan, yakni April sampai dengan September 2017. Gogor kembali dilepasliarkan di lokasi berbeda, di Cagar Alam Gunung Sigogor yang berdekatan dengan Cagar Alam Gunung Picis.
“Tempat kandang habituasi ini dipilih berdasarkan habitat yang mendukung seperti sumber pakan dan sedikitnya jumlah kompetitor,” pungkasnya.
