Banjir Sungai Way Pisang Sisakan Ratusan Kubik Sampah
LAMPUNG — Hujan deras yang melanda wilayah Lampung dan sekitarnya berimbas pada meluapnya Sungai Way Pisang yang mengalir di Kecamatan Penengahan, Palas dan Sragi, bermuara ke Sungai Way Sekampung, perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Turmudin (59) warga Dusun Kenaat, yang tinggal di dekat Bendungan Indah yang memiliki empat pintu air pembagi air ke area persawahan dan saluran utama ke arah desa-desa yang ada di sepanjang aliran Sungai Way Pisang, menyebut, sejak Kamis (28/9) aliran banjir Sungai Way Pisang mengakibatkan warga kuatir akan debit air yang berpotensi merusak lahan pertanian.
Petugas Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Palas yang menangani Sungai Way Pisang terpaksa melakukan penutupan pintu air irigasi menghindari sampah mengalir ke lahan pertanian.
“Saya sebagai warga sengaja membersihkan sampah, karena takut jika sampah yang tersangkut di bagian tiang penopang jembatan bendungan bisa berimbas ambrolnya tiang dan bahkan bisa meluap ke lahan pertanian warga. Apalagi, hujan dan banjir terjadi pada malam hari,”ungkap Turmudin, saat ditemui Cendana News tengah membersihkan sampah yang menumpuk di Bendungan Indah, Sabtu (30/9/2017) sore.

Proses pembersihan sampah-sampah tersebut, menjadi pekerjaannya atas perintah penanggungjawab bendungan indah tersebut dengan sistem upah harian yang diakuinya belum diberikan dengan janji akan diberikan saat sampah di bendungan tersebut dibersihkan.
Ia mengungkapkan, intensitas hujan di bagian Gunung Rajabasa bisa berpotensi menimbulkan banjir dan sampah sisa pembersihan lahan pertanian.
“Umumnya pascakemarau yang dimanfaatkan oleh petani untuk membersihkan lahan berimbas sampah pembersihan lahan pertanian terbawa arus sungai dan menumpuk menjadi satu di bendungan, jika dikubikasi bisa mencapai ratusan kubik sampah hanya dalam tiga hari lamanya”, terang Turmudin.
Warga lain, Sabar, menyebut idealnya dinas terkait menyediakan fasilitas alat berat untuk memudahkan pembersihan sampah yang menimbun dan menyumbat bendungan dan bisa menjadi penyebab jebolnya bendungan dan merusak lahan pertanian.
Sabar juga menyebut, dengan datangnya musim hujan yang melanda hampir selama beberapa hari terakhir mengakibatkan beberapa hektare lahan pertanian terendam banjir, di antaranya di Desa Pulau Tengah dan wilayah muara, bahkan beberapa pemilik lahan kolam budidaya ikan. “Masyarakat pemilik budidaya ikan banyak yang kehilangan ikan terutama jenis lele yang kerap mudah hilang saat banjir dan musim penghujan”, beber Sabar.
Banjir akibat hujan deras berimbas meluapnya air sungai Way Pisang dengan tumpukan sampah, dimanfaatkan pula oleh beberapa pemuda di wilayah sekitar Bendungan Indah, untuk mengumpulkan kayu sebagai bahan bakar untuk dijual.
Hamdan, seorang anak yang duduk di bangku sekolah menggunakan waktu luang mengumpulkan kayu dan bambu untuk dijual sebagai bahan bakar. “Saya kumpulkan kayu bakar dari sampah yang terbawa arus sungai dan terkadang kelapa kering bisa saya kumpulkan untuk dijual sebagai tambahan uang jajan”, cetus Hamdan.
Hamdan bersama kawan-kawannya menyebut, banjir menjadi berkah karena sampah-sampah tersebut bisa dikumpulkan dan bisa dijual termasuk sebagian sampah botol plastik yang bisa dijual ke tukang rongsok. Sampah berbagai jenis tersebut juga telah memenuhi sebagian pintu bendungan dan masih berpotensi bertambah karena hujan yang terus terjadi di wilayah Lampung Selatan.