Air Irigasi Menipis, Petani Lamsel Manfaatkan Mesin Pompa

LAMPUNG — Puluhan hektare lahan pertanian padi di beberapa desa di Kecamatan Penengahan diantaranya Desa Pasuruan, Desa Klaten, Desa Tanjungheran yang masih berusia satu bulan mulai dilanda kekeringan dan berkurangnya pasokan air dari saluran irigasi yang sudah disediakan oleh Dinas Pekerjaan Umum setempat.

Yatno, salah satu warga di Desa Pasuruan anggota perkumpulan petani pemakai air menyebut saat masa tanam pasokan air cukup melimpah namun musim kemarau mulai melanda berimbas tanaman padi miliknya kekurangan air.

Kekuatiran Yatno dan ratusan petani di beberapa desa di Kecamatan Penengahan cukup beralasan akibat kebutuhan air tersebut sangat penting memasuki masa pemupukan kedua yang akan dilakukan oleh para petani. Masa pemupukan tahap pertama saat tanaman padi memasuki usia lima belas hari kondisi pasokan air masih cukup baik namun kini harus menerapkan sistem giliran.

“Sistem giliran dilakukan dengan pola pembagian air melalui saluran irigasi. Namun kendalanya sebagian saluran irigasi rusak sehingga air merembes terbuang tidak masuk ke areal sawah sebaliknya air yang sudah mengairi sawah terbuang dari retakan saluran irigasi,” keluh Yatno salah satu petani di Dusun Banyumas Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News tengah menyiangi rumput disela sela tanaman padinya yang tanahnya mulai mengering, Jumat (22/9/2017)

Sistem pembagian air dari saluran air Way Muloh diakui Yatno saat musim penghujan bisa berlimpah namun sebaliknya saat musim kemarau petani harus berebut kebutuan air bersih sehingga harus dilakukan sistem pembagian secara bergiliran. Pembagian air secara bergiliran dilakukan dengan mengalirkan air lahan sawah pada bagian atas selanjutnya pada bagian bawah.

Yatno menyebut termasuk salah satu petani yang memiliki lokasi tidak menguntungkan karena berada pada bagian ujung saluran irigasi yang pada beberapa bagian sudah retak imbasnya air tidak bisa disalurkan ke puluhan petak sawah yang totalnya mencapai seperempat hektar tersebut.

“Sebagian bisa terjangkau air namun kemarau ini saya harus terpaksa menyewa pompa air untuk menyedot air dari sungai atau dari belik yang bisa saya salurkan ke beberapa petak yang tanahnya sudah kering”tegas Yatno.

Yatno menyebut memasuki jadwal pemupukan kedua kalinya saat umur tanaman padi miliknya berusia satu bulan ia berharap tanaman padi miliknya masih bisa diselamatkan meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyedot air. Tanpa pengairan yang memadai ia kuatir tanaman padi varietas Ciherang miliknya akan berkurang produksinya dan beresiko gagal panen.

Berbeda dengan Yatno yang masih akan menyedot air untuk pengairan sawah miliknya, salah satu warga Desa Tanjungheran, Jamhari masih beruntung bisa memanfaatkan aliran air dari Sungai Way Pisang untuk pengairan lahan sawah miliknya.

Jamhari yang memiliki areal lahan sawah mendekati masa padi berisi tersebut rela merogoh kocek ratusan ribu untuk membeli solar dan sekaligus menyewa mesin sedot air untuk pengairan sawah.

Proses membendung sungai yang debitnya mulai menurun diakuinya terbukti efektif untuk mengatasi dampak kekeringan akibat berkurangnya pasokan air, meski diakui Jamhari sebagian petani di wilayah lain sudah memasuki masa panen.

“Masa tanam memang tidak serentak dampaknya saat kemarau tiba sebagian petani yang membutuhkan air untuk pengairan bertepatan dengan saat padi mengisi,” terang Jamhari.

Selain membendung sungai dirinya membutuhkan selang sepanjang 300 meter mengalirkan air ke lahan sawah yang lebih tinggi dari sungai sementara aliran air dari sungai kecil di atas sawahnya yang biasa menyuplai air kini sudah kering.

Padi usia satu bulan memasuki masa pemupukan tahap kedua mulai kekurangan air bersih/Foto: Henk Widi.
Jamhari, petani Desa Tanjungheran bersiap membendung sungai untuk disedot menggunakan mesin pompa ke lahan pertanian selama kemarau/Foto: Henk Widi.
Lihat juga...