Titiek Soeharto Meminta Pemerintah Tidak Impor Garam

YOGYAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi SE, Titiek Soeharto, meminta pemerintah meningkatkan produksi garam nasional guna menghindari impor garam di masa mendatang. Salah satunya dengan mengintensifkan berbagai program edukasi bagi masyarakat khususnya para petani garam di Indonesia.

“Tentu sangat memprihatinkan. Indonesia ini 2/3 wilayahnya adalah air laut. Tapi mengapa impor? Ini kan kebangeten,” katanya di Bantul, Selasa (08/08/2017).

Titiek menilai kunci mengatasi masalah kelangkaan garam akibat minimnya produksi saat ini, berada di pemerintah. Pemerintah dinilai harus memberi perhatian serius kepada petani garam baik dalam hal peningkatan kualitas maupun dari sisi efektivitas produksi.

“Perhatian pemerintah sangat diperlukan. Petani harus diedukasi bagaimana membuat garam yang baik. Program-program pemerintah harus disalurkan ke situ,” katanya.

Titiek juga menyoroti permasalahan impor garam di Indonesia yang terulang secara terus menerus setiap tahun. Ia menilai impor hanya dinikmati segelintir orang namun menyebabkan masyarakat kecil termasuk petani menjadi susah.

“Tiap tahun problemnya sama. Pemerintah harus menindak tegas, karena dengan kebijakan impor hanya sebagian kecil saja yang menikmati. Sementara rakyat susah,” katanya.

Salah seorang peternak sapi, Ramidi (45) warga Karang Poncosari Srandakan menyayangkan kebijakan impor garam yang dilakukan pemerintah. Ia menyebut dengan pantai yang sangat luas, Indonesia semestinya mampu menghasilkan garam sendiri tanpa perlu impor.

“Dulu di tempat saya banyak petani garam. Namun karena pemasaran susah, sekarang sudah tidak ada lagi yang mau jadi petani. Apalagi dukungan pemerintah sangat kurang Akibatnya sekarang garam jadi mahal,” ujarnya.

Ramidi mengaku harus mengeluarkan biaya komboran sapi lebih banyak karena harga garam mahal.

Titiek Soeharto didampingi Bupati Bantul Suharsono saat meminjau pabrik pembuatan mie letek/ Foto: Jatmika H Kusmargana.
Lihat juga...