Kerupuk Renyah Si Mbull Rambah Luar Wilayah Lamsel

LAMPUNG — Usaha pembuatan kerupuk sebagai usaha mikro tetap berjalan selama beberapa tahun terakhir terus dijalani oleh produsen kerupuk dengan nama komersial kerupuk si Mbull di Desa Sri Pendowo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan.

Teman sajian berbagai olahan kuliner tradisional berupa bakso, mie ayam, soto ayam hingga dimakan sebagai camilan tersebut masih menjadi hidangan favorit bagi masyarakat berbagai kalangan dengan rasa yang renyah.Kerupuk kerap dicari menjelang peringatan HUT RI 17 Agustus untuk perlombaan.

Proses pengolahan kerupuk rasa ikan yang bahan bakunya didatangkan dari Ciamis Jawa Barat dan dilakukan proses penjemuran dan penggorengan tersebut bahkan mulai merambah Kabupaten Lampung Timur dan hampir sebagian wilayah Lampung Selatan.

Menurut Dimas sebagai penanggungjawab produksi dan distribusi kerupuk si Mbull usaha pembuatan kerupuk si Mbull tak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia usaha kuliner yang ada di Lamsel sehingga ikut mendongkrak permintaan akan kerupuk.

Sejumlah pegawai distribusi kerupuk yang semula hanya mampu menyuplai sekitar 500 kaleng berisi sebanyak 51 kerupuk perkaleng diakuinya kini meningkat pada angka 800 bahkan 1000 kaleng perhari ke sejumlah toko atau warung pedesaan dan langsung ke pedagang kuliner.

Dimas menyebut kiat sukses kerupuk si Mbull diterima lidah masyarakat karena produksi dilakukan dengan standar yang cukup baik khususnya saat proses penggorengan dimana proses tersebut akan menentukan kualitas kerupuk yang dihasilkan.

Tingkat kematangan hingga kerupuk sampai ke lidah konsumen bahkan menjadi penentu kerupuk si Mbull diterima masyarakat dan tetap berproduksi hingga kini.

Proses penggorengan kerupuk si Mbull dan pengemasan sebelum dimasukkan di kaleng /Foto: Henk Widi.

“Kalau bicara soal kerupuk banyak sekali produsen kerupuk dengan dominan rasa ikan, Untuk itu kami menjaga kualitas untuk menjaga kepercayaan konsumen sehingga proses penggorengan dijaga sedemikian rupa termasuk proses mengganti minyak setiap beberapa kali penggorengan,” terang Dimas saat ditemui Cendana News, Selasa (8/8/2017)

Ia bahkan menyebut kualitas rasa tersebut tetap dijaga dengan melakukan proses penggantian di kaleng yang dititipkan ke konsumen khususnya jika ada kerupuk yang sudah melempem atau tidak layak dikonsumsi.

Sebagai usaha kecil Dimas mengaku standar rasa kerupuk yang dibuatnya ada pada penggoreng dengan tingkat kematangan tertentu sehingga saat disimpan di dalam kaleng. Sistem pengembalian (return) bahkan diberlakukan tiga hari sekali sembari melakukan proses pengambilan uang hasil penjualan oleh para kanvaser kerupuk yang saat ini jumlahnya lima orang dengan empat pekerja menggunakan empat unit mobil dan satu menggunakan motor.

Memproduksi sebanyak 4 kuintal perhari dengan jumlah saat digoreng mencapai 17.000 kerupuk Dimas menyebut sebagian besar pekerjanya kini sudah mampu mengantarkan ke sejumlah konsumen sebanyak 800 hingga 1000 kaleng tergantung permintaan dari konsumen.

“Beberapa warung makan terutama soto ayam dan pecel bahkan meminta dikirim hingga lima kaleng sepekan sementara warung lain lebih sedikit jadi kita perlu mencari pelanggan baru yang menjadi tugas para sales,”  tutur Dimas.

Penggorengan kerupuk /Foto: Henk Widi.

Kunci sukses bertahannya usaha kerupuk si Mbull diakui oleh Dimas tak lepas dari peran para pecinta kuliner tradisional di Kabupaten Lamsel yang menjadi penyecap langsung kerenyahan kerupuk itu.

Kerupuk produksi usaha yang merupakan akronim dari Membawa Berkah Usaha Lancar dan Langgeng sehingga disebut dengan kerupuk si Mbull. Dimas mengungkapkan dengan berkembangnya usaha kuliner dan juga kecintaan konsumen akan kerupuk sebagai teman makan menjadikan produksi kerupuk si Mbull masih menghasilkan omzet jutaan rupiah perpekan.

Salah satu tren kenaikan permintaan kerupuk sebagai usaha rumahan tersebut diakui Dimas terjadi pada saat menjelang peringatan hari kemerdekaan RI dengan asumsi jumlah permintaan setiap dusun dan desa bisa mencapai 10 kaleng dan ikut menyumbang tingkat penjualan kerupuk.

“Kita lakukan penambahan penggorengan kerupuk mentah menyesuaikan banyaknya permintaan karena tren saat Agustusan sejumlah warung kehabisan kerupuk dan imbas positifnya sales minta tambahan stok,” ucap Dimas.

Risa salah satu konsumen kerupuk yang kerap mengonsumsi kerupuk si Mbull saat menyantap bakso mengaku dirinya merasa tidak lengkap jika makan bakso tanpa menggunakan kerupuk yang renyah tersebut. Selain tetap menjadi santapan yang murah meriah dengan harga seribu  rupiah per buah tersebut kerupuk diakuinya ikut menjadi penambah selera saat menikmati bakso.

“Rasa renyah kerupuk si Mbull saat dimakan bersama bakso menambah semangat makan demikian juga saat makan nasi,” kata Risa.

Risa mengakui di sejumlah warung dirinya pun kerap mendapati sejumlah kerupuk dengan kondisi melempem dan bahkan tidak layak untuk dimakan karena belum diambil oleh sales,sebagian pemilik warung biasanya akan mengganti kerupuk baru sehingga rasanya tetap renyah saat dikonsumsi.

Lihat juga...