Tarian Pedang Namang, Ungkapan Syukur Hasil Kerja Keras

LARANTUKA — Para lelaki mengenakan sarung kain tenun ikat serta baju kaus putih menggerakan kaki maju mundur dengan kedua tangan digenggam di belakang punggung berjalan keililing dalam lingkaran seraya melantunkan syair-syair lagu daerah.

Sementara para perempuan dengan mengenakan sarung tenun serta baju berwarna cokelat memegang sapu tangan di kedua tangannya ikut menggerakan kaki dan kedua tangan mengibaskan sapu tangan seraya bergerak memutar dalam sebuah lingkaran.

Laki-laki dan perempuan mengenakan mahkota di kepala dari anyaman daun Gebang atau Enau dimana sekelilingnya dipasang bulu-bulu ayam berwarna putih terus beryanyi melantunkan 15 syair lagu.

Semua penari terus menggerakan kaki maju mundur dan melangkah ke kanan tetap dalam lingkaran dimana di tengahnya duduk seorang lelaki yang terus menabuh gendang menambah semangat penari.

Agustina K.Fernandes salah seorang penari yang ditemui Cendana News mengatakan, Tarian Pedang Namang dari desa Tuakepa ini merupakan tarian riang gembira yang ditarikan saat hasil panen di kebun melimpah.

Menurut Agustina tarian ini hanya ditarikan saat pesat panen di kebun saja sehingga cuma ditarikan setahun sekali kecuali untuk dipentaskan atau dipertunjukan kepada para khalayak ramai.

“Karena ini pementasan maka penarinya dibatasi dan kami menggunakan  14 penari dimana dua penarinya laki-laki ditambah seorang pemukul gendang,” Ungkapnya.

Tarian Pedang Namang ini jelas Agustina, sudah mulai hilang sehingga pihaknya sengaja menampilkan saat festival seni budaya Titehena agar anak muda bisa mengetahui dan tertarik mempelajarinya.

Kerja Keras

Theresia Pihok Talar penari lainnya menambahkan, tarian ini juga biasa dipentaskan dan anak-anak SD juga pernah membawakan ini saat kegiatan di kecamatan dan kabupaten dengan tetap mempergunakan alat musik gendang.

Lagunya dibawakan sendiri secara spontanitas saat pentas lanjut Oncu sapannya dimana menceritakan tentang kerja keras saat membuka ladang, menanam, merawat hingga memanennya.

“Intinya tarian ini merupakan ucapa syukur, mensykuri campur tangan Tuhan dalam memberkati usaha mereka dan ini merupakan tarian adat zaman dahulu sehingga pakaian adatnya masih tetap yang asli,” terangnya.

Agustina K,Fernandes (kiri) bersama Theresia Pihok Talar para penari Pedang Namang asal desa Tuakepa. Foto : Ebed de Rosary

Para perempuan pun tandas Oncu juga turun ke kebun sehingga dalam membawakan tarian ini mereka melakukannya dengan semangat sementara kata-kata dalam syair ini meceritakan tentang Koda Kirin, ungkapan syukur dan pesan.

Syair lagu lanjutnya, menceritakan tentang kedua orang tua yang membawa anak-anak mereka ke kebun dan sang bapak memotog kayu, membersihkan rumput hingga dibiarkan kering lalu membersihkan lahan dan menanam.

“Setelah itu syair berceritera tentang proses menyemai padi, memanen dan menyimpannya di dalam lumbung dan hasil panen ini diberikan oleh Sang Kuasa sehingga harus disyukuri,” pungkasnya.

Lihat juga...