Produsen Teri Ketapang Akui Ekspor Stabil Meski Harga Garam Tinggi

LAMPUNG — Puluhan produsen ikan teri di Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan meski ikut terimbas mahalnya harga garam, namun untuk produktifitas ekspor masih stabil.

Rohim, salah satu produsen ikan teri di Dusun Ketapang menyebutkan, kelangkaan garam diakui tidak terjadi lagi meski harga masih cukup tinggi, di angka Rp250ribu per sak atau ukuran 50 kilogram dengan harga semula Rp200 ribu untuk ukuran sama.

Disebutkan, negara tujuan ekspor saat ini di antaranya, untuk jenis teri nasi ke negara Taiwan dan ikan Layur ke Malaysia, sementara untuk teri katak ke Padang dan teri hitam ke Palembang.

“Ikan tersebut dikirim ke Cilegon sebelum diekspor dengan proses pengemasan ukuran masing masing 10 kilogram dengan jumlah pengiriman tiga ton perminggu sehingga produksi harus terus dilakukan,” sebutnya saat ditemui Cendana News, Senin (7/8/2017).

Untuk memenuhi kebutuhan ekspor, ia bersama dengan beberapa produsen teri lain kerap memasok garam kebutuhan produksi ikan asin, ikan teri hingga 20 ton lalu dibeli sesuai dengan kebutuhan masing masing produsen yang berkisar 4 ton setiap produsen untuk kebutuhan beberapa bulan.

Hal tersebut terpaksa dilakukan karena mengingat beberapa hal, di antaranya, kesejahteraan karyawan yang bekerja padanya termasuk nelayan pemasok teri yang terus mencari ikan teri di perairan Ketapang.

Karyawan yang bekerja dari proses perebusan, penjemuran hingga proses penyortiran sebelum dikirim untuk ekspor diakuinya akan kehilangan mata pencaharian sama halnya dengan nelayan pencari ikan teri dengan sistem jaring payang.

Bahan baku jenis teri nasi basah dalam musim ini diakuinya dibeli dari nelayan payang dengan harga Rp17ribu per kilogram dengan nilai jual paska pengolahan bisa mencapai Rp90ribu per kilogram. Ikan jenis teri katak dan ikan layur dibelinya dengan harga Rp5ribu hingga Rp8ribu dan harga jual Rp30ribu perkilogram.

Ia menyebut harga jual yang pas untuk teri nasi ekspor diakuinya normalnya bisa mencapai Rp100ribu untuk menutupi biaya produksi namun meski harga garam naik komoditas ikan teri justru stabil.

 

Stok garam untuk bahan produksi ikan teri [Foto: Henk Widi]
Produsen teri nasi lain di Desa Legundi Kecamatan Ketapang, Abdul menyebut meski nyaris limbung akibat harga garam naik ia bersyukur masih bisa memiliki usaha lain. Selain sebagai produsen teri yang terkendala harga garam dirinya masih memiliki usaha budidaya kerang hijau dan rumput laut sebagai usaha sampingan.

“Diservikasi usaha sebagai nelayan memang harus dilakukan saat biaya produksi teri naik kita masih memiliki usaha lain hasilnya bisa menutupi produksi,” terang Abdul.

Ia mengakui tetap berharap harga garam kembali stabil sehingga pengusaha teri seperti dirinya bisa kembali beroperasi dengan normal dan membantu ekonomi masyarakat nelayan pesisir Lamsel. Selain sebagai nelayan budidaya dan nelayan tangkap sebagian nelayan mulai mengembangkan usaha pembesaran udang lobster dengan keramba jaring apung untuk meningkatkan nilai jual dan tambahan ekonomi.

Lihat juga...