Petani Pala di Sleman, Sekali Panen Jutaan Rupiah

YOGYAKARTA — Sejak ratusan tahun silam, tanaman pala telah dikenal sebagai komoditas bernilai jual tinggi. Tanaman asli Maluku ini diambil biji, salut biji (fuli), hingga buahnya. Selain bubuknya kerap digunakan sebagai rempah-rempah dan bumbu masakan, Pala juga diambil minyaknya untuk pembuatan minyak astiri, bahan pembuat sabun dan parfum atau minyak wangi.

Tingginya nilai jual pala, membuat sejumlah petani di Kabupaten Sleman, membudidayakan tanaman yang pada masa kolonial Belanda menjadi komoditas ekspor nomor 1 ini. Salah satunya di dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Adalah Aris Hermanto (44) salah seorang petani Pala di Kabupaten Sleman.

Lelaki satu ini boleh dibilang menjadi pionir petani Pala di DIY. Mulai menanam pala sejak tahun 2007 silam, kini ia mulai menuai hasilnya. Memiliki sebanyak 46 pohon Pala di lahan pekarangan seluas kurang lebih 500 meter persegi, ia mampu menghasilkan 1 kilogram pala per pohon setiap harinya.

Padahal harga jual biji pala basah mencapai Rp70 ribu per kilogram, sedangkan pala kering mencapai Rp170 ribu per kilogram. Itu belum termasuk salut biji atau fuli nya yang nilai jualnya mencapai Rp300-400 ribu per kilogramnya.

“Saya menanam pala karena memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Hanya saja tidak banyak masyarakat yang mengetahui hal ini. Sehingga di Sleman ini belum banyak masyarakat yang menanam Pala,” katanya Senin (14/08/2017).

Aris mengaku harus mendatangkan bibit pala dari Bogor sekitar 10 tahun silam. Selama kurun waktu 6 tahun lebih, ia harus merawat tanaman pala tanpa mendapat hasil apa-apa. Pasalnya tanaman pala baru akan berproduksi setelah berumur 7 tahun.

Setelah berumur 7, tahun pala akan berbuah secara terus menerus setiap hari tanpa henti atau sepanjang tahun. Puncak pertumbuhan atau produksi buah pala akan maksimal setelah berumur 9 tahun.

“Selama 5-6 tahun petani memang tak mendapat hasil sama sekali. Mungkin itu yang membuat masyarakat kurang tertarik menanam pala,” katanya.

Selama ini, Aris sendiri mengaku menjual pala hasil panen kebunnya ke sejumlah warung makan dan restoran. Sejumlah pengepul juga kerap datang ke rumahnya untuk membeli pala miliknya.

“Sekali panen bisa dapat 50 kilo lebih. Jadi sangat menguntungkan,” katanya.

Lihat juga...