LOMBOK — Rasanya segar dan membuat badan hangat dengan aromanya yang khas dan harum, itulah kopi bubuk Rinjani. Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama yang suka melakukan pendakian ke Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Kopi bubuk Rinjani mungkin tidak asing lagi terdengar, terutama jenis ‘Cinger Cinnamon’ yang menjadi salah satu kopi favorit wisatawan sebagai minuman penghangat badan saat melakukan pendakian.
Kopi bubuk Rinjani terutama jenis Cinger Cinnamon sendiri bahan-bahannya diambilkan dari biji kopi pilihan yang ditanam di sekitar lereng pegunungan Rinjani Lombok dan diolah secara alami.
“Jenis Cinger Cinnamon banyak disukai para pendaki, karena selain diolah secara alami, juga dicampur dengan tanaman rempah-rempah seperti jahe, kayu manis dan cengkeh termasuk beras super dan kopi arabica,” kata Owner UD. Rinjani Lombok, Nurwardaini kepada Cendana News, Sabtu (19/8/2017).

Dikatakan, kopi bubuk Rinjani sendiri terdiri dari empat jenis antara lain luwak coffe, black coffe, rumput laut dan Cinger Cinnamon, dengan cita rasa tersendiri.
Untuk pengolahan sendiri, kopi bubuk Rinjani diolah dan diracik dengan cara tradisional, di mana proses penggorengan sebelum ditumbuk halus menjadi bubuk kopi menggunakan wajan dari tanah, termasuk alat penggoreng menggunakan tempurung kelapa.
“Pengolahan kopi bubuk Rinjani dengan pengolahan secara tradisional sendiri dilakukan, selain untuk menjaga cita rasa kopi, juga sebagai bagian dari upaya melestarikan nilai kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang dalam mengolah kopi,” katanya.
Wardaini mengatakan, rasa dan aroma kopi yang diolah secara tradisional menggunakan tungku dan pembakaran dari kayu juga jauh lebih enak, itulah kenapa kenapa pengolahan tetap dilakukan dengan cara tradisional.
Kopi bubuk Rinjani akan banyak dicari wisatawan yang melakukan pendakian saat bulan April hingga November setiap tahun, mengingat pada bulan tersebut merupakan dibolehkannya wisatawan melakukan pendakian.
“Pada bulan-bulan tersebut pesanan kopi bisa ramai, terutama dari bulan April, baik untuk diminum maupun untuk dibawa pulang sebagai oleh oleh para wisatawan ke negaranya, wisatawan asal Malaysia dan Singapura tercatat paling banyak pernah memesan,” tuturnya.
Lebih lanjut ibu kelahiran Mataram, 14 April 1965 tersebut menambahkan, kalau sedang ramai pesanan dalam satu bulan dirinya bisa menjual kopi bubuk Rinjani sampai 350 kilo .
Dimana setiap jenis kopi memiliki harga berbeda-beda, mulai dari 50 ribu sampai satu juta tergantung besaran kemasan dan jenis kopi, kopi jenis Cinger Cinnamon termasuk paling mahal .
Selain menerima pesanan perorangan dari wisatawan, Wardaini juga mengaku kopi bubuk Rinjani telah banyak masuk gerai pasar moderen dan perhotelan di NTB.