Kemristekdikti Beri Insentif Startup Hingga Rp500 Juta

MAKASSAR – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) membagikan insentif hingga Rp500 juta kepada 740 ‘startup’, guna membantu munculnya industri-industri baru yang berdaya saing.

“Pendanaan dari Ristek (Kemristekdikti-red) berupa insentif yang diberikan maksimal Rp500 juta untuk satu ‘startup‘, tergantung apa yang sedang dikembangkan,” kata Dirjen Penguatan Inovasi, Jumain Ape, usai pembukaan Seminar Forum ‘Start Up’ Nasional bertajuk ‘Menumbuhkembangkan Start Up Nasional Berdaya Saing Global’ di Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (11/8/2017).

Jumain mengatakan, pemberian insentif sebagai penguatan inovasi dari Ditjen Penguatan Inovasi kepada 740 ‘startup’ yang sudah memiliki Technology Readiness Level (TRL) 8 sampai dengan 9 ini dilakukan sejak 2015 hingga 2017. Pada 2015, diberikan kepada 40 ‘startup’, 2016 diberikan kepada 500 ‘startup’ dan di 2017 diberikan kepada 200 ‘startup’.

Tentu, menurut dia, dilihat pula secara ekonomi apakah ‘startup’ yang dikembangkan ini memungkinkan untuk dilanjutkan atau tidak. Bimbingan diberikan hingga tiga tahun, namun akan berhenti jika memang dalam setahun sudah kuat.

Sering kali ia mengatakan ‘startup’ macet dari masa peralihan inkubasi menjadi industri. Selain persoalan anggaran sering kali penemu tidak berjiwa wirausaha, sehingga harus dibantu menyambungkannya dengan dunia usaha yang berpengalaman dalam memasarkan produk.

Tingkat keberhasilan ‘startup’ menjadi industri, menurut Jumain, diharapkan bisa mencapai 30 persen dari total yang dibimbing atau yang mendapat insentif. “Yang 2015 tinggal 2 atau 3 (startup-red) didanai, yang lain sudah berjalan sendiri. Yang 15 dikirim ke Inggris sekarang sudah mandiri semua”, katanya.

Dirjen Penguatan Inovasi ini mengatakan, bidang yang banyak dikembangkan menjadi ‘startup’ terkait dengan pangan, kesehatan serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Beberapa sudah go internasional, seperti ‘startup’ dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengembangkan alat untuk diagnosis demam berdarah dan dari Universitas Brawijaya yang mengembangkan alat diagnosis diabetes yang sudah dipakai Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

“Karena sudah dipakai WHO ,ya digunakan di mana-mana karena harganya juga sangat murah, tidak tahu negara mana saja yang menggunakannya. Ini sama dengan garam farmasi, sekarang Jepang ambil semuanya dari kita,” ujar Jumain.

Sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, mengatakan sebuah ‘startup’ juga harus dimulai dengan riset. Jika hasil riset lolos dari TRL 6 yang artinya telah melalui riset dasar dan telah menjadi prototipe dan diketahui memberikan nilai tambah bagi masyarakat untuk menjadi inovasi, maka ini sudah siap dijadikan ‘startup’.

“Akan sangat baik jika diterapkan ke seluruh peneliti untuk bisa hasilkan inventor-inventor di Indonesia. Di Silicon Valley itu semua ‘start up’, kalau Jepang ada di Chukuba, kalau Iran ada di Pardis Technopark dan beberapa jadi ‘startup’ global,” ujar dia.

Nasir mengatakan, coba didorong agar semua teknologi yang diciptakan, baik yang tepat guna, dijadikan “startup” sehingga bernilai ekonomis. “Tidak ada gunanya kalau inovasi tapi harga mahal dan durabilitas pendek serta pembuatannya susah”, katanya.

Ia juga berpesan, terkait harga inovasi yang dikembangkan juga harus kompetitif dibandingkan yang lain. Poin ini sangat penting untuk mengembangkan ‘startup’. (Ant)

Lihat juga...