Jamban Sehat Datang, Warga Tidak Lagi Cemari Kali
LAMPUNG — Puluhan tahun sebagian warga Dusun Bangundana Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang masih memanfaatkan fasilitas jamban dengan sistem jamban cemplung atau terbuka di belakang rumah dan sebagian masih memanfaatkan aliran sungai sebagai lokasi buang air besar.
Kepala Dusun Bangundana,Widodo (40) tidak menampik bahwa pola buang air besar sembarangan masih terjadi di wilayah. Namun beruntung wilayah tersebut mulai mendapat bantuan jamban sehat sebanyak 200 lebih jamban atau water closet (WC) pada 2017 ini.
Program bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan bekerjasama dengan Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Indonesia yang bertujuan untuk penyelenggaraan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) dengan bantuan berupa semen, pipa pvc, hingga closet.
Sementara kebutuhan material lain disediakan secara swadaya oleh warga penerima manfaat. Program tersebut diakui Widodo juga sekaligus upaya warganya dalam swasembada WC serta mengikuti program stop buang air besar sembarangan terutama warga yang tinggal di dekat sungai.
“Saya salah satu penerima manfaat jamban sehat sudah mulai swadaya mengerjakan kamar kecil dan juga kamar mandi sembari menunggu bantuan material lain termasuk closet yang belum dikirim ke warga yang berhak,” terang Widodo, Rabu (23/8/2017)
Pembuatan jamban didukung oleh sumber daya alam yang mencukupi. Di sekitar dusun tersebut terdapat pasokan pasir yang diambil dari kali, batu bata yang sebagian bisa dibuat sendiri oleh warga dan sistem gotong royong yang masih menjadi tradisi kental di wilayah tersebut.
Widodo bahkan menyebut sesuai dengan kesepakatan antar warga penerima manfaat dari program sanitasi total berbasis masyarakat, swasembada WC yang terealisasi melalui bantuan material pembuatan jamban sehat sebagian dikerjakan secara swadaya dan gotong royong.
Gotong royong yang dilakukan mulai dari proses penggalian septic tank sedalam 2 meter dan lebar 1 meter tersebut diakuinya sudah cukup membantu biaya operasional pembuatan jamban sehat.
Berdasarkan kalkulasi ia menyebut bantuan yang diterima berupa material senilai Rp350 ribu lebih sementara total keseluruhan pembuatan jamban sehat bisa berkisar Rp1juta sehingga sisanya dikerjakan secara swadaya termasuk biaya tukang bangunan yang bisa diminimalisir dengan sistem gotong royong.
Sistem swadaya tersebut terbukti efektif dengan ratusan warga yang belum memiliki jamban sehat sudah menyediakan septic tank sembari menunggu closet dan material lain didatangkan.
Jonis, warga lain di dusun tersebut mengungkapkan belum adanya fasilitas jamban sehat bagi warga di wilayah tersebut lebih disebabkan faktor ekonomi dan lingkungan. Sebagian besar warga yang semula menetap sebagai peladang (umbulan) belum memiliki penghasilan cukup dari hasil bertani.
Selain itu lingkungan pendukung berupa aliran sungai memudahkan warga melakukan aktivitas BAB sembarangan di sungai tanpa harus membuat jamban dan pembuatan jamban dominan masih mempergunakan jamban cemplung.
“Bantuan dari pemerintah membantu sebagai stimulan atau pemancing sehingga semangat gotong royong,mengeluarkan modal membuat jamban akan menggeser pola penggunaan kali sebagai tempat buang air besar,” ungkap Joni.
Joni menyebut dengan adanya bantuan tersebut selanjutnya diharapkan sungai yang semula dicemari dengan limbah atau kotoran manusia akan kembali bersih setelah masyarakat beralih menggunakan jamban sehat.
Joni yang bekerja membantu pembuatan jamban sehat di rumah Widodo mengaku akan bergantian dibantu dalam proses pembuatan jamban sehat yang mayoritas dikerjakan secara swadaya dan gotong royong tersebut.


