Efesiensi Biaya, Pembudidaya Ikan Manfaatkan Limbah Pertanian

LAMPUNG — Kawasan Kecamatan Palas dikenal sebagai wilayah yang menjadi sentra budidaya ikan air tawar di Kabupaten Lampung Selatan. Di antaranya di Desa Palas Pasemah, Palas Aji, Sukabakti, Sukaraja hingga ke Desa Mekarmulya dengan sebagian besar warganya memiliki kolam skala kecil hingga skala besar.

Suyanto (55) salah satu pengelola budidaya di Desa Sukaraja menyebutkan, sebagian masyarakat ada yang ikut bergabung dengan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) dan sebagian melakukan secara mandiri.

Suyanto yang ikut bergabung dengan Pokdakan Komoditas Budidaya Ikan Air Tawar “Mina Kerabat” di bawah pembinaan Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Selatan menyebut sebagian warga membudidayakan jenis ikan lele, patin, nila dan gurame yang masih memiliki pangsa pasar cukup tinggi untuk konsumsi.

“Selain dijadikan usaha sambilan di antaranya bertani dan berkebun. Palas memang sudah ditetapkan sebagai sentra budidaya ikan air tawar karena memang lokasi dan infrastruktur ikut mendukung dengan air irigasi yang lancar untuk lahan pertanian dan kolam,” terang Suyanto saat ditemui Cendana News,Senin (7/8/2017)

Suyanto mengungkapkan, salah satu kendala yakni sumber pakan. Sebagian pembudidaya masih memanfaatkan pelet ikan pabrikan yang saat ini dijual dengan harga berkisar dari Rp9.500 hingga Rp18.000 per kilogram atau ratusan ribu untuk ukuran per 10 kilogram hingga 30 kilogram.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya memanfaatkan mesin pengolah dengan tenaga mesin dan memanfaatkan limbah pertanian seperti dedak atau bekatul dari proses penggilingan padi, hama keong mas. Langkah tersebut selain bisa menekan biaya pakan juga dilakukan untuk pemanfaatan melimpahnya limbah pertanian.

Proses pembuatan pakan ikan diakuinya terbilang sederhana dengan bahan baku dedak dicampur keong mas dengan takaran 2 karung yang digiling selama dua jam bisa menghasilkan sekitar 150 kilogram pakan yang setelah digiling langsung dijemur untuk menghasilkan pelet ikan kering yang bisa disimpan.

Ia menyebut jika memiliki tenaga kerja lebih dan cuaca panas bagus untuk penjemuran produksi pelet dari dedak dan keong mas bisa lebih banyak dibuat.

“Selain perpaduan antara dedak dan keong mas kita juga lakukan penambahan nutrisi penunjang untuk ikan air tawar yang bisa merangsang pertumbuhan ikan dan berpengaruh pada hasil panen tentunya”terang Suyanto.

Saat ini ia menyebut budidaya ikan air tawar berbagai jenis tersebut dilakukan pada beberapa petak kolam dengan jumlah saat ini 10 petak dengan masing masing berukuran 20 meter x 20 meter dan masih dilakukan proses perluasan pada beberapa bagian lahan. Pada setiap petak kolam ikan yang diberi pakan pelet hasil produksi sendiri setiap pagi dan sore saat ini diakui Suyanto diantaranya ditebar sebanyak 12.000 ikan nila, 2.000 ikan bawal, ikan patin sebanyak 12.000 ekor dan ikan lele sebanyak 8.000 ekor sebagian dipanen secara parsial dan proses penyortiran sesuai ukuran.

Banyak dijadikan bahan baku usaha kuliner pada rumah makan pindang patin, warung pecel lele diakui Suyanto saat ini harga ikan patin dengan ukuran 3 ekor perkilogram dijual seharga Rp17.000 dengan asumsi hasil panen secara parsial bisa menghasilkan omzet jutaan rupiah. Bisnis yang juga menguntungkan para penjual ikan keliling tersebut diakuinya dijual lebih murah untuk memberikan keuntungan bagi penjual ikan yang mengambil langsung dari budidaya di kolam ikan Pokdakan Mina Sahabat.

“Sistem penjualan kita bertahap tidak langsung ke konsumen sehingga kita beri selisih untuk penjual agar mereka bisa memperoleh keuntungan dengan keberadaan usaha budidaya ikan air tawar ini,” terang Suyanto.

Ia menyebut perputaran bisnis budidaya ikan air tawar juga ikut mendukung pemilik penggilingan padi yang menjual dedak limbah penggilingan padi dengan harga saat ini mencapai Rp30ribu perkarung dan bisa memanfaatkan keong mas sebagai sumber pakan ikan yang di sawah hanya sebagai hama.

Proses pengolahan pakan ikan dari dedak,keong mas menggunakan mesin untuk pakan ikan hasil produksi sendiri Pokdakan Mina Sahabat Palas [Foto: Henk Widi]
Sejalan dengan pengelola Pokdakan Mina Sahabat, Winarso salah satu pembudidaya ikan air tawar jenis ikan lele di Desa Kalirejo Kecamatan Palas menyebut permintaan akan ikan lele saat ini masih tinggi untuk konsumsi.

Harga berkisar Rp15ribu hingga Rp16ribu diakuinya bisa dilakukan saat dirinya melakukan efesiensi pakan dengan memanfaatkan dedak dan keong mas. Sementara untuk jenis ikan Gurame dirinya memanfaatkan tamanan jenis daun talas sebagai pakan tambahan disamping pelet yang dibeli.

Prospek budidaya yang masih terbuka dengan ketersediaan lahan, air dan juga usaha kuliner diakuinya ikut menyumbang keberlangsungan budidaya ikan air tawar. Proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dengan sejumlah rumah makan penyedia konsumsi pekerja juga ikut menyumbang konsumsi ikan dan munculnya warung makan.

“Sebagai pembudidaya ikan air tawar kita lakukan pembuatan pakan sendiri tanpa mengurangi hasil produksi ikan dan harga jual tetap stabil,” terang Winarso.

Lihat juga...